Cuplikan Historic desa Kumba UleeGle yang Terkesan Angker

Hulu sungai lhok gop
beningnya-air-di-sungai-krueng-lhok-gop-kumba

Di pegunungan Desa kumba, Bandar dua, Uleegle, Pidie Jaya, Aceh, punya cara untuk menceritakan sejarahnya sendiri. Di balik keindahan hutan tropis yang kaya dengan kandungan mineral, lebih dari 8 tahun silam, kisah tentang gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tersimpan rapi di dalamnya.

Perbukitan terjal di hulu sungai Krueng Lhok gob, menjadi saksi bisu putra-putri Aceh yang ‘kecewa’ dan mengangkat senjata, membela tanah rencong yang lama terlindas tampa keadilan..

Di kawasan yang sama itulah, jejak bekas konflik masih dapat dilihat hingga kini. Hulu Sungai Krueng sekaligus bukit nan tinggi yang menjadi sumber mata airnya adalah buku sejarah terlengkap bagi mereka Prajurit Gam. Namun, meski harus berpeluh menuju kawasan itu, Aceh selalu menawarkan bayaran yang setara; kecantikan alam yang tiada duanya.

Lihat, air sungai berwarna hijau pastel memantulkan wajah pegunungan di atasnya. Air sungai menjadi “ibu” yang menghidupi satwa air di dalamnya mulai dari ikan, hingga biawak.

Dari hulu sungai krueng lhok gop ini pula, air mengalir hingga ke pelosok desa yang di antaranya desa kumba, desa coet keng atau yang lebih populer di kenal dengan gelar (bukit janda), dan desa paya pisang klat.

Desa-desa tersebut dulunya termasuk dari salah satu desa yang terkesan angker sangat di pidie jaya. Desa yang Jauh dari hiruk pikuk keramaian kota, dibumbui dipinggiran hutan belantara, tak salah jika Gam memilih desa tersebut jadi sarang mareka.

Langit merah tanah Serambi Mekah, menjadi GAMbaran pertikaian di Nangroe Aceh Darussalam. Desing peluru, deru armada militer, serta isak tangis kematian, setiap hari terdengar bagai alunan nada menyayat hati setiap orang yang mendengarnya.

Di saat Masyarakat selalu menjadi korban. Tapi mereka begitu tabah dan tidak pernah mengeluh. Meski kadang rumah mereka dibakar, anak mereka ditangkap, kemudian terbunuh, atau harus membayar pajak pada GAM… Mereka tergencet diantara GAM dan TNI.

Pembakaran sekolah, darah dan mayat, adalah lukisan hidup, yang akan membuat orang mengelus dada, setiap kali melihatnya. Tanah Aceh menjadi saksi, betapa mahal harga yang harus dibayar untuk menyelesaikan masalah.

Jika itu history silam, namun sekarang jauh berbeda, Perjanjian MoU telah membawa Aceh ke arah yang stabil, baik kehidupan sehari-hari dan ekonomi, serta tidak ada lagi perasaan was-was, jika hendak pergi ke sawah, ke kebun, melaut dan ke sekolah.

khususnya desa kumba, Jalan yang dulunya sebatas aspal kenangan di jaman masa Suharto, yang telah berlubang sana sini sekarang teraspal sudah, jelas terlihat perubahan suasana kemajuan desa tersebut.

Halaman depan Dayah Annur Al aziziah desa kumba, kec bandar dua, uleegle, pidie jaya
dsc00191

Jauh hari sebelum lahirnya GAM, desa Kumba pada waktu itu masih merupakan sebuah Kampung kecil yang terletak disudut kota Uleegle, Bandar Dua.

Sebelah timur membentang aliran sungai dari krueng lhok gop, yang tiap tahun airnya meluap, sasaran biasanya desa Alue ketapang, dan desa Babah krueng, sedang desa Kumba sendiri jauh dari banjir, karena tingginya daratan di bandingkan dengan desa-desa lainnya yang dekat dengan bibir krueng tersebut.

Dari dalam terkesan desa ini di kelilingi oleh pesawahan dan hutan belantara yang cukup lebat, sebuah desa terpencil yang jauh dari keramaian dan terkesan angker, maklum pada waktu itu sekitar tahun tujuh puluhan, jalannyapun masih tanah bercampur bebatuan.

Disaat penerangan belum ada, penerangan hanya dengan memanfaatkan Oncor/obor (ruas bambu kering yang diisi minyak dan disumbat dengan segumpal kain, untuk sumber nyala apinya), Oncor inilah yang digunakan sebagai satu-satunya alat penerangan dan hampir disetiap rumah menggunakan alat penerangan tradisional ini.

Seiring dengan berjalannya waktu, desa ini juga ikut maju dan moderen, tak pelak, arus globalisasi dapat merobah segalanya, termasuk desa terpencil sekalipun, dengan pemasukan aliran listrik, oncor terpaksa pamitan, Nasib sama juga di alami bedug, yang dulunya dijadikan sarana yang memiliki fungsi sebagai alat komunikasi tradisional, baik dalam kegiatan ritual keagamaan maupun politik.
Di Aceh, sebuah bedug biasa dibunyikan untuk pemberitahuan mengenai waktu sholat atau sembahyang.

Bedug terbuat dari sepotong batang kayu besar atau pohon enau sepanjang kira-kira satu meter atau lebih. Bagian tengah batang dilubangi sehingga berbentuk tabung besar. Ujung batang yang berukuran lebih besar ditutup dengan kulit binatang yang berfungsi sebagai membran atau selaput gendang.
Bila ditabuh, bedug menimbulkan suara berat, bernada khas, rendah, tetapi dapat terdengar sampai jarak yang cukup jauh.

Alat tradisional ini juga sudah langka terlihat, selepas adanya pengeras suara berupa miep dan sejenisnya.
Mungkin masih banyak hal-hal lain yang telah tergantikan dibawa ombak global yang serba canggih, bahkan adat istiadat juga ikut punah tampa jejak, andai kita terlena dengan kemajuan jaman, sehingga lupa akan sesuatu yang telah lama turun temurun dari nenek moyang kita.
Hanya sebagian dari mareka yang pandai melestarikan adat leluhur mareka dari kejamnya era 21 ini.

Begitulah lembaran silam desa tersebut yang sekarang tentu jauh berbeda !!!

Beralih ke masa kini, Menelusuri Gampong Kumba akan terasa seperti berada di sebuah desa hijau.
Desa yang sekarang di nahkodai oleh geusyik (kepala desa)red  Sulaiman R ini terdiri dari 4 dusun, kumba jaya, dusun kuta trieng, meunasah papeun, dan dusun blang reuleue.

Di Desa yang udaranya belum tercemar ini juga terdiri sebuah organisasi islam/pesantren ‘Annur Al aziziyah” , Yang di pimpin oleh sesosok yang berwibawa, peramah, and sederhana dialah Walet  Muhammad nur, penuntun warga desa kumba ke jalan yang lebih ter arah.

Walet  Nur salah satu dari alumni dayah mudi mesra samalanga Aceh jeumpa, Saking fahamnya dalam bidang religi, tak sedikit warga yang di tempat lain meminang beliau supaya sudi tinggal/menetap di desanya, bahkan semua kebutuhan di sediakan oleh penanggung tempat, namun beliau lebih memilih menetap di tanah kelahiranya desa kumba, dengan tujuan agar regenerasi desa kumba lebih maju dalam bidang agama.

Sebuah mesjid dengan ornamen bergaya Turky yang berdiri kokoh di sana barang kali bisa menjadi landmark bagi gampong yang dihuni ±300 KK ini.

Mesjid Mubarakah desa kumba, kec bandar dua, uleegle, pidie jaya masih dalam tahap pembangunan
babul-mubarakat-desa-kumba

Masa sebelum adanya mesjid yang mulanya hendak dinamai jabal nur yang bermakna “Cahaya pegunungan” ini, masyarakat kumba masa itu tergolong dalam kemukiman mesjid ‘BabusSalam’ uteun bayu, Saban jum’at mareka ke sana menunaikan kewajiban, ada pula sebagian warga yang lansung ke mesjid ‘Al Istiqamah’ Uleegle di kecamatan Bandar Dua, sembari berbelanja segala kebutuhan.

Alhamdulillah dengan berdirinya mesjid ‘Babul Mubarakat’ di desa kumba, warga khususnya kaum Adam tak lagi repot jika hari jum’at menyapa.

Dayah ‘Annur Al Aziziah’ berada dalam komplek mesjid ini pula, dimana saban malam, begitu pula harinya ramai insan yang menimba ilmu, jika harinya khusus anak TPA, malamya jatah bagi remaja, bagi kaum ayah-ayah kamis malam, itupun tergantung dusun, ada pula minggu malam atau selasa malam, sabtu malam agenda wirid (Tahlilan)red bersama di mesjid, Sedang jum’at pagi jatahnya kaum ibu-ibu.

Mesjid ‘Al Istiqamah’ uleegle, kec bandar dua, pidie jaya
mesjiduleeglebandardua_pidiejaya

Warga desa kumba cuman sanggup mengucap sepatah kata, Alhamdulillah beserta Terimakasih atas kesediaan walet sebagai pimpinan Pesantren Annur Al Aziziah, yang Beliau beserta staf dewan guru, bahu membahu dengan tampa mengenal lelah siang malam menuangkan ilmunya demi generasi desa kumba kedepan jauh lebih baik. Moga umur dan rezkinya diberkahi Allah, demi tercapai cita-cita mulianya untuk mencerdaskan anak bangsa khususnya desa kumba dalam bidang agama. amiin..!!!.

begitu pula hendaknya, moga Aceh kedepan lebih maju dalam segala bidang, supaya masyarakat lebih makmur sejahtra, Walaupun warga yang hidup di pelosok desa rata-rata di bawah garis kemiskinan, tiada jadi problem bagi mareka, asalkan Aceh damai, tentram, itulah salah satu diantara sekian banyak harapan penghuni desa-desa tersebut.

~ Articel menarik lainnya

=0= sekian =0=

Iklan

One comment

  1. Hi there everyone, it’s my first pay a visit at this
    site, and post is actually fruitful for me, keep up posting these types of articles.

    Suka

Kunjungan balik ke blog sobat yang berkomentar sudah barang tentu !!! Terima Kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s