Bukit Janda Gelar desa Cot keng Uleegle bandar dua Pidie jaya

download

Nama Desa Cot Keng tak begitu populer di Aceh. Namun sebutlah nama Kampung Janda !Langsung saja, masyarakat mengarahkan telunjuknya pada peta Kecamatan Bandar Dua Ulee Gle Kabupaten Pidie Jaya. Nama Kampung Bukit Janda tidak tercatat dalam administrasi pemerintahan di Ulee Gle..

Justru nama Desa Cot Keng yang tertera. Sejarah juga yang akhirnya mengingatkan masyarakat melafalkan desa itu dengan nama Kampung Bukit Janda.Sejarah Kampung Janda Nama desa yang tidak diharapkan populer itu semua dimulai ketika Aceh diterapkan Daerah Operasi Militer (DOM). Desa yang permai ini berada di perbatasan Kabupaten Pidie Jaya dengan Kabupaten Bireuen.

Untuk menjelajah ke sana sangat gampang. Menumpang dengan kendaraan roda dua lebih cepat daripada roda empat. Pasalnya, jalan kesana rusak parah, berlubang dan genangan air sepanjang jalan ke Kampung Cot Keng.

Hamparan padi yang menguning membuktikan sebagian besar penduduk Cot Keng bekerja sebagai petani. Sejak kapan desa di atas bukit ini popular dengan sebutan Kampung Bukit Janda? Adalah tentara Indonesia yang pada tahun 1990 kaget ketika memeriksa warga.

padi-menguning

Sudah lazim, usai kontak senjata antara tentara dengan gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), tentara mengumpulkan warga di meunasah setempat, Hasilnya, hanya ada sembilan pria tua.

Selebihnya, perempuan semua. Kemanakah kaum pria? Ternyata, ada kaum Adam yang tewas ditembak, kabur ke daerah lain karena takut pada operasi tentara. Julukan Kampung Janda tidaklah membuat warga desa tersebut menjadi bangga. Karena julukan ini sering disalah artikan bagi orang-orang yang belum pernah atau baru mendengarnya.

Masyarakat disana berharap nama kampung janda ini bisa dihilangkan, apalagi sekarang kita sudah hidup dimasa-masa damai. Tapi, ada yang lebih penting dari sekedar merubah nama, yaitu merubah nasib masyarakat disana yang masih hidup dalam kondisi yang memprihatinkan.

Mereka perlu bantuan, dukungan dan perhatian. Bagi mereka perdamaian hanya tinggal perdamaian, seharusnya mereka bisa tersenyum tapi senyum itu tertahan ketika melihat orang-orang besar dikantoran asyik tertawa setelah menerima gaji bulanan, insentif, Begitulah sejarah nama Kampung Bukit Janda sebagaimana diulas secara lengkap oleh Juwairiyah.

Ketika itu, untuk memisahkan warga dengan GAM, tentara pun mengeluarkan kartu tanda penduduk khusus dengan latar belakang berwarna merah di atas dan putih di bawah. Mirip bendera Merah Putih.

Sebutan desa janda juga terdapat di Distrik Lalerek Mutin di Timor Leste yang penyebabnya setali tiga ketip dengan kasus di Desa ini, Hingga kini, Juwairiyah masih tergiang-giang dengan peristiwa yang mengharukan itu. Suaminya ditembak dan tidak diizinkan dikubur oleh keluarga sendiri. “Saya masih sangat ingat pada tahun 1990 ketika itu saya mengandung lima bulan. Suami dituduh (GPK).

Dia diambil pada siang hari pada 29 puasa ketika sedang memotong padi orang di sawah dan dibawa ke Kantor Camat Ulee Gle. Empat hari kemudian dibawa ke Trienggadeng dan disanalah ditembak bersama lima kawannya yang lain,” kenangnya dengan berlinang air mata.

Saat itu, anak-anaknya masih kecil dan yang paling besar Kelas 5 SD dan dua orang lagi belum bersekolah. Otomatis beban keluarga beralih total kepundaknya. Lima bulan setelah melahirkan, janda ini naik ke gunung.

Bukan untuk memanggul senjata bersama GAM. Ia menjadi buruh kayu. “Saya bersama perempuan-perempuan lain menurunkan kayu dari gunung dan setiap orang masing-masing dua potong. Saya dapat upah Rp 2.500 untuk setiap potongan,” tutur ibu empat anak ini. Zaman berotasi, rezim berganti dari Soeharto ke BJ Habibie.

Diera Habibie, Juwairiyah diajak ke Jakarta oleh sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk menjadi saksi atas kematian suaminya.”Saya ke Kantor LBH di Jakarta, di kantorLBH selama 7 hari, ke Kantor Komnas HAM, juga ke kantor DPR. Di sana saya terus-terusan sampai bosan menceritakan penembakan suami saya yang tidak bersalah,” lirih Juwairiyah.

Juwairiyah berani mengungkapkan fakta hingga ke Jakarta karena ingin menyuarakan kebenaran tentang suaminya. Seolah-olah sudah kehilangan nyali urat takut, perempuan yang tidak pernah merasakan bangku sekolah membeberkan suaminya ditangkap dan ditembak tanpa bukti apapun yang menyatakan dia bersalah. Suaminya dituduh GPK padahal yang ada di tangan dia hanya sabit untuk menerima upah memotong padi.

Saat di Jakarta, Juwairiyah mengaku sedikit takut dan khawatir terhadap nasib anak-anak di gampong. Pasalnya, mereka dititip saja ke tetangga dan rumah saya selalu didatangi oleh aparat sehingga anak-anak ketakutan, apalagi saat di Jakarta saya sering muncul di TV.

~ Articel menarik lainnya

“berbagai sumber”

Iklan

Kunjungan balik ke blog sobat yang berkomentar sudah barang tentu !!! Terima Kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s