Kari Kambing Kuliner Khas Aceh Disaat Perayaan Maulid

acara-maulid
Ahmad Fahmy / Getty Images

Hari itu, kemis 5 february 2015, warga Desa Kumba, Kecamatan Uleegle, Kabupaten Pidie Jaya, Nanggroe Aceh Darussalam, cukup sibuk. Pagi hari, usai menunaikan shalat Subuh, mareka langsung turun ke dapur, menyalakan api di tungku, guna menghangatkan beberapa menu yang sudah disiapkan tadi malam..

Sebagai ummat yang taat, mareka Sangat sibuk untuk menyambut detik-detik menjelang perayaan 12 Rabiul Awal, hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad saw sesuai penanggalan Islam.
Di bawah tudung nasi yang terbuat dari anyaman rumbia yang bagian atasnya dilapisi kain warna merah sudah tersedia beberapa makanan yang diolah dari daging bebek, ayam dan ikan.

Ada lauk bebek gulai putih (bebek masak puteh), kari bebek, rendang bebek, ayam panggang, ayam masak merah, telur bebek asin, gulai udang yang dicampur tauge dan kentang, serta bandeng panggang. Makanan- makanan itu dipersiapkan secara spesial untuk dibawa ke meunasah (surau) di mana nantinya perayaan maulid diadakan.

Secara umum, perayaan maulid di Aceh tidak dilaksanakan secara serentak.
Maulid dirayakan mulai dari 12 Rabiul Awal hingga 12 Jumadil Akhir. Selama 100 hari berturut-turut, masyarakat Aceh merayakan hari kelahiran Baginda Nabi Muhammad secara bergiliran, mulai dari mesjid-mesjid di tingkat kecamatan hingga dusun-dusun di desa.

Tahun ini kami terpaksa hanya memotong kambing karena kurang dana, berbeda dg Tahun lalu, berhubung maulid bertepatan dengan musim panen, warga berhasil mengumpulkan dana untuk membeli sapi.
Walaupun musim panen belum tiba tapi acara prosesi menyambut maulid kali ini tiada terkendala.

Tiga pekan sebelum diadakan acara maulid para tetua kampung seperti teungku imum meunasah, tuha peut, tuha lapan dan tgk keuchik membuat rapat bersama warga untuk membentuk panitia kecil , Panitia yang dibentuk itu diantaranya, siapa yang akan memasak, penjamu rombongan tamu ,dan lain sebagainya. Soal penggalangan dana ditanggung bersama bahu-membahu oleh warga, atau bahasa kerennya di Aceh biasa diistilahkan ripee atau meuripee.

Begitu pula kami para pemuda, juga mengadakan rapat bersama yang melahirkan beberapa poin antara lain pembentukan ketua pemuda baru di periode 2015 yang diketuai oleh saudara kita MUSMULYADI M , beserta tgk HELMI YS sebagai wakilnya, serta pengelola dana kas pemuda alias bendahara yang dipertanggung jawabkan kepada Tgk M.AIDDARUS H.Id yang didampingi Pak HUSAINI.

iris pisang
Acara pemotongan duo kambing di malam hias surau /Tgk Hilmy Getty Images

Poin selanjutnya meliputi penggalangan dana untuk menggelar dakwah di malam harinya , Karna di Aceh menjadi sebuah tradisi mengadakan ceramah di malam harinya seusai acara maulid di siang hari, Serta dana acara pemotongan duo kambing, yang rencana kambing tersebut di sembelih di malam hias meunasah.

Tentu dana-dana tersebut tidak sedikit, Dengan semangat darah muda yang menggebu demi menyemarakkan Maulidin Nabi, dibarengi kekompakan para pemuda dusun meunasah papeun, serta tak sedikit pula sokongan dari saudara-saudara kita yang di rantau yang turut serta membantu berupa dana segar yang mareka transferkan, sedang mareka yang baru pulang dari rantauan juga ikut bagian dengan suka rela menambal dimana ada dana yang kekurangan disamping dana yang telah diwajibkan.

Seminggu sebelum acara semua dana telah terkumpulkan, Tinggal mendeteksi ustad/penceramah mana yang akan di undang, serta persediaan kambing yang memadai untuk malamnya.

Begitu pula soal meunasah (surau)red, Kebetulan meunasah kami lagi di rehabilitas, Tentu kami harus bergotong royong lebih dari sekali. Kali pertama jatahnya bagi pemuda , mengganti stiker surau dengan cat baru, membersihkan kolam-kolam tempat cuci piring di saat acara, dan sebagainya.

Sedang goyong yang kedua gabungan tua adanya maupun muda ,kali ini turut disertai rekanan dari KKN Unsyiah Banda Aceh Klp 96 masa bakti january 2015 beranggotaan seven people yang kebetulan mareka sedang bertugas di desa kumba.

IMG_7255-300x200
KKN Klp 96 / Getty Images

Kilas balik KKN masa silam dengan KKN dewasa kini tentu jauh berbeza, jika dulu agenda magang mareka artikan untuk berbaur dengan masyarakat sembari mendalami seluk beluk kehidupan di desa, namun rekanan KKN masa kini pada umumnya kebalikan alias masih jauh ketinggalan dengan senior-seniornya masa silam.

Bisa dikatakan KKN masa kini tak lebih sekedar menjalankan tugas yang dilatarbelakangi keterpaksaan, bahkan tak jarang agenda terjun ke desa mareka jadikan ajang rekreasi semata, tampa mengedepankan tujuan dari terjun ke desa, Tidak dengan mareka yang bertugas di desa kumba sekarang , tapi bagi mareka yang merasa saja, meski ini menjadi reaksi yang berlebihan untuk mengatakan sedemikian, namun setimbal dengan kenyataannya.

Mungkin ini menjadi pukulan telak bagi rekanan KKN dewasa ini, tapi tak lebih ini pukulan demi kita juga , demi university kita dilabeli kata OKE oleh masyarakat.

Jelas jauh berbeda dengan KKN masa silam, di masa kecilnya admin ingat betul, Mareka KKN kompak betul dengan masyarakat, Cara berbaurnya mareka yang meninggalkan kesan yang sulit terlupakan, Bahkan saking padunya sampai ada yang menetap alias merit di desa ini.

Kembali ke pokok masalah, Pukul 06.30 WIB, puluhan laki-laki di Dusun Menasah Papeun Kumba sudah berkumpul di meunasah untuk menyiapkan prosesi pemotongan kambing yang kemudian di masak untuk menjamu para undangan, Para undangan itu terdiri dari warga tetangga, tokoh agama, rombongan anak yatim dan grup zikir maulid. Ada tiga ratusan tamu yang bakal datang, jadi wajar saja kalau mereka begitu sibuk menyiapkan makanan.

Di Aceh, perempuan jarang dilibatkan dalam urusan kegiatan kemasyarakatan di luar rumah karena bertentangan dengan syariat, begitulah pandangan kami tentang hukum Islam, jadi tak heran jika di meunasah saat prosesi maulid semua kaum laki-laki .

Pagi itu Para lelaki yang beberapa di antaranya mengenakan kain sarung tampak begitu sibuk dan riuh.Usai kambing dipotong, sebagian laki-laki bertugas mengiris daging, kemudian mencucinya dengan air yang diambil dari sungai di sebelah meunasah.

Di Desa Kumba, segala kebutuhan air, mulai dari air minum, memasak, mencuci hingga mengairi sawah, didapatkan dari sungai. karena tanah di kawasan kami tidak memiliki persediaan air yang bersumber dari dalam tanah, Beberapa orang lainnya bertugas menyiapkan bumbu-bumbu. Sebelum acara ini terlaksana, warga memang sudah membentuk kelompok kerja yang membuat masing-masing mengetahui tugasnya.

Hari itu, Apa TIM (52) kejatuhan job sebagai koki, bukan hal baru jika Apa Tim jago dalam soal rasa, masakannya sudah barang tentu lain dari yang lain, bahkan di desa Kumba termasyhur sudah dengan ala masakan khasnya, . Ia menyiapkan bumbu yang sudah digiling halus seperti cabai merah kering, bawang merah, bawang putih, ketumbar, pala, cengkeh, kapulaga, dan lain-lain. Ada belasan rempah yang disiapkan nya. Menurut Apa TIM, kambing tersebut akan dimasak kari, kemudian dicampur sayur labu di dalamnya..

dapur-umum
Ampon jafar sedang memarut/kukur kelapa dengan mesin, tepat dibelakangnya dapur umum meunasah dimana kari kambing di masak

“Kari kambing ini adalah makanan khas Aceh yang sudah berlangsung secara turun temurun dan selalu ada di perjamuan pesta tradisional,” tutur bapak 3 anak ini. Sebuah dapur besar sudah dipersiapkan. Beberapa bilah besi dijadikan penyangga, kemudian ada batu sebagai penopang di mana kayu bakar akan disulut di bawahnya. Di atas tungku itu, kemudian ditaruh belanga besi untuk memasak kari kambing.
Untuk diketahui, 50% masyarakat Desa Kumba masih memanfaatkan kayu bakar sebagai alat untuk memasak, jadi proses ini adalah masalah sepele buat kami.

Saat matahari sudah mulai mengintip di timur, proses memasak pun dimulai. Ampon Jafar menyiapkan santan kelapa yang digunakan sebagai kuah kari. O ya, ada banyak nama Jafar di desa ini. Untuk bisa membedakan masing-masing nama, warga memberi nama akhir yang disangkutkan dengan profesi atau kebiasaan si pemilik nama. Macam di Eropa juga, ada yang nama akhirnya Carpenter (tukang kayu) atau Blacksmith (tukang besi).

Kembali ke soal masak memasak, kini minyak goreng sudah dituang dan bumbu pun ditumis. Hmmm, aroma daun kari, serai, daun pandan dan kapulaga menyengat. Selera saya tergoda. Saya jadi tidak sabar saat melihat potongan daging kambing yang segar itu dimasukkan dan dimasak.

Busyet, beberapa kali saya harus menelan liur. Makanan khas Aceh rasanya cukup dekat dengan masakan India. Apalagi untuk bumbu kari. Cabai kering menjadi bumbu wajib karena ia memberi aroma yang lebih kuat, di samping pemakaian jintan dan cengkeh. Bumbunya lumayan banyak, dan itu memberi rasa yang spicy.

kari-kambing
Kejatuhan job membagi kari kambing jamuan-makan para undangan

Selain bumbu, turut diberi santan yang membuat kari kambing menjadi lebih gurih. Yang lebih unik lagi adalah pemakaian labu air sebagai gulai. Untuk masakan biasa, buah labu jarang dilibatkan, tapi untuk masakan untuk umum, labu dianggap penting agar lebih banyak.

Kembali ke ibu-ibu di rumah, bicara tentang maulid tak luput dari daun pisang karena kegunaannya yang tentu sangat di butuhkan, daun pisang dipanggang (diasap dengan arang agar tidak mudah koyak saat membuat nasi kulah). Lalu dicopot dari tangkainya dijadikan lembaran. Nasi ditaruh di atasnya, kemudian dibentuk kerucut, lalu dibungkus dengan bantuan tusuk lidi. Lauk yang terdiri dari bebek, ayam dan ikan disiapkan, di masukkan ke dalam piring, dan dihidang di dalam talam bulat. Dalam satu talam terdapat 7 hingga 10 macam menu.

Sebagian besar lauk itu menggunakan santan dan sama sekali tidak ada sayur di dalamnya. Makanan sayur di daerah kami sudah menjadi gaya hidup. makanya di saat maulid kami tak jadikan menu lagi, selain daging-daging gitu, kami juga terbiasa menyantap ikan laut yang kemudian dimasak dengan bumbu dapur seperti kunyit, asam sunti (belimbing wuluh yang sudah dikeringkan),bawang merah, dan bawang putih yang sudah digiling halus.

Walaupun kami memakan sayur seperti gulai pliek u misalnya, tetap saja itu menggunakan banyak rempah dan santan. makanya kami jarang merasa trancam oleh kolestrol, Setelah lauk disusun di dalam talam, bukulah disiapkan, dibungkus dengan kain batik, barulah saya antar ke meunasah. Orang-orang di rumah langsung menyerbu makanan yang masih tersisa di dalam kuali.

grup-zikir-banzanji
Grup zikir barzanji dayah Annur al aziziah desa Kumba dengan alunan merdu khasnya

Pukul 08.30 WIB, para Rombongan grup zikir maulid tiba, Mereka terdiri dari anak-anak berjumlah lebih kurang 30 orang. Isi zikir adalah pujian dan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Pukul 10.00 WIB, anggota zikir disuguhi makana ringan tradisional sepert timpan dengan kopi susu dan teh.

Pukul 11.00 WIB, tamu-tamu lain menyusul tiba. Kari kambing yang dimasak oleh kaum laki-laki dihidang sebagai kuah (sup), sementara lauk, mungkin pantasnya disebut makanan utama (main course), adalah menu-menu yang dimasak oleh kaum ibu di rumah Kain batik yang membungkus talam pun dibuka, bu kulah dibagi-bagi.

tamu-para-undangan
jamuan-makan tamu para undangan

Setiap orang memperoleh satu bungkus. Dalam 5 menit, lauk- lauk mewah itu ludes, menyisakan piring dan bekas bumbu yang menempel. Tentu saja setiap bungkusan talam yang berjumlah puluhan itu tidak dibuka sekalian, karena masih banyak tamu yang bakal datang hingga jelang siang hari.

Anak-anak yatim mendapat tempat tersendiri, Mereka dianggap tamu paling istimewa. Alasannya, Nabi Muhammad juga dilahirkan dalam kondisi yatim, kemudian ibunya meninggal saat ia masih kanak-kanak. Lagipula, Nabi Muhammad semasa hidupnya mengajarkan umatnya untuk memelihara dan menyantuni anak yatim piatu.

Jamuan makan dilakukan dengan duduk di lantai beralas tikar atau karpet di dalam ruang meunasah. Mereka semua duduk sejajar. Tidak ada tempat VIP untuk lurah atau camat. Menu dihidang, pelakunya semuanya laki-laki, yang makan juga laki-laki, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Setiap 5 orang mendapat satu talam dengan isi menu antara 13 hingga 15 macam. Semua menu ditaruh di dalam piring kecil. Dalam satu piring kecil terkandung 3 sampai 5 potong lauk. Meski tampak berbeda, namun isinya tetap seputar daging, daging ayam dan daging bebek. Yang membedakan hanya tangan yang mengolahnya saja.

Etika makan juga biasa saja, tidak ada table manner karena memang tak ada mejanya. Begitu bu kulah dituang ke dalam piring, kemudian ada kuah kari (warga setempat terbiasa makan nasi yang harus ada kuahnya), lauk seperti ikan dan ayam, maka menu-menu itu sudah menjadi makanan pembuka sekaligus penutup. Hanya beberapa orang yang barangkali sudah moderen menyertakan buah pepaya atau semangka sebagai pencuci mulut.

jamuan-makan-grup-zikir

jamuan-makan-grup-zikir seusai ritual zikir

Turun temurun Ini bukanlah kali pertama perayaan maulid di Desa Kumba. Acara serupa sudah dilaksanakan puluhan tahun lalu, sejak kampung itu dibuka, seratusan tahun silam dan diadakan tiap tahun. Menurut salah seorang pemuka agama di Desa Kumba, Muhammad Nuer (35) walet, materi maulid itu memiliki ritual yang sama dari tahun ke tahun. “Tidak ada yang berubah, mulai dari zikir hingga penyediaan makanan,” ungkap pemilik Pesantren Annur Al Azizah itu.

Walet menjelaskan, peringatan maulid awalnya belum ada ketika zaman Rasullullah. Ia mulai diperingati sekitar tahun 1174-1193 Masehi atau 570-590 Hijriyah. Awalnya diprakasai oleh Sultan Salahuddin Yusuf al- Ayyubi di Kairo, Mesir. Perayaan itu sengaja dibuat untuk semakin menghidupkan semangat juang ummat Islam dengan cara mempertebal keimanan dan mencintai nabi mereka.

Masa itu, dunia Islam sedang mendapat serangan-serangan dari berbagai negara dan bangsa Eropa,” katanya. Sultan Salahuddin kemudian mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal, yang setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, dirayakan secara massal.

Untuk semakin memeriahkan suasana maulid, Sultan Salahuddin yang saat itu berkuasa di Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia, melakukan berbagai sayembara berhadiah. Ia menyuruh para ulama dan sastrawan menulis riwayat nabi beserta pujian-pujian dengan bahasa seindah mungkin.

Di antara peserta yang ikut, pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja’far Al- Barzanji. Karyanya kemudian dibukukan dan kini dikenal sebagai Kitab Barzanji. Kitab inilah yang sampai sekarang masih menjadi panduan yang dibacakan saat zikir maulid. Di Aceh umumnya, zikir maulid dilakukan dengan beberapa campuran bahasa, kombinasi antara Bahasa Arab dan bahasa setempat.

Setelah acara selesai saya kembali ke rumah dengan perasaan puas. saya melihat serombongan ibu-ibu di jalan yang semuanya berpakaian indah, mirip suasana hari raya, berjalan ke rumah kerabatnya . Mereka adalah tamu, Menjadi sebuah ritual kunjungan merayakan maulid seperti tersebut.

– sekian –

Iklan

Kunjungan balik ke blog sobat yang berkomentar sudah barang tentu !!! Terima Kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s