“Parang Lam Situek” Gelar Warga Uleegle Bandar Dua Era 80an

images (1)
Ilustrasi Parang

Di era 1980-an anggapan Parang lam situek” terhadap masyarakat Ulee Gle, Kecamatan Bandar Dua ( Pidie Jaya sekarang ) masih terasa. Cap “Parang lam situek” yang diberikan pada orang Ulee Gle mengindikasikan bentuk masyarakat berkarakter beringas, kejam dan keras, serta berani dan tak mau kompromi,.
karena ketertinggalan cara berfikir mereka yang masih kolot, serta fanatis primordial tak beralasan hingga mem bentuk watak dan karakter masyarakat yang sangat lokal.

Di satu sisi orang Ulee Gle mungkin agak sedikit bangga bila orang menyebutkan sebagai masyarakat “parang lam situek” karena fanatisme kelokalan primordial itu. Meskipun kadang kala mereka kalah gertak ketika berhadapan orang lain di lua kandang sendiri.

Artinya, karakter keberingasan dan keberanian masyarakat Ulee Gle yang di kenal dengan “parang lam situek”hanya berani ketika mereka berada di wilayahnya, begitu ke luar kandang dan merantau ke daerah lain baru menyadari bahwa mereka yang menganggap dirinya kha (hebat) dan berani di Ulee Gle, ternyata di luar itu masih banyak orang lain yang lebih kha lagi dibandingkan keberanian mereka.

Kebanggaan primordial yang sangat lokal bagi orang UleeGle mulai memudar pelan-pelan seiring munculnya generasi terdidik yang menempuh pendidikan ke luar daerah hingga ke perguruan tinggi Darussalam. Meskipun generasi ini masih harus menanggung beban kultural dari karakter cap “Parang lam situek” yang sudah telanjur dijuluki orang terhadap masyarakat Ulee Gle.

Pada era 1980-an itu, bila orang Ulee Gle, Pidie-karena ada Ulee Gle lain di Krueng Mane, Bireun memperkenalkan dirinya pada orang lain, orang tersebut langsung mengatakan: “Kiban ureung Ulee Gle matong peumeu’en parang lam situek”?. Begitu masih terkenalnya karakter “parang lam situek” bagi masyarakat Ulee Gle pada era 1980-an. Julukan tersebut malah tersebar hingga ke kampus Darusalam Banda Aceh.

Anak uleegle sendiri dalam pergaulan di kampus di Darussalam ketika itu tak jarang menerima julukan tersebut, yang terkadang mareka harus berkilah memberikan pemahaman bahwa “parang lam situek” yang dicap pada orang Ulee Gle jangan diartikan sebagai masyarakat beringas,karas, atau kolot.

Tapi cap itu lebih pada kebiasaan orang Aceh tempo dulu bila berpergian kemana-mana tetap membawa sejata tajam, seperti pisau, rencong atau parang, tujuannya untuk pengamanan diri terutama dalam menghadapi masa penjajahan Belanda.

Ketika itu Belanda melarang membawa senjata tajam bagi masyarakat, dan bila ada orang yang ditemukan membawa sejata tajam pada zaman Belanda dulu mereka akan mendapat hukuman berat.

Maka untuk menghindari kecurigaan pasukan Belanda saat itu masyarakat Ulee Gle bila membawa senjata tajam waktu berpergiaan seperti parang misalnya, parang tersebut terpaksa dibungkus dalam pelepah pinang (lam situek) untuk tidak dicurigai ketika mereka melewati pos-pos Belanda.

Alasan sejarah ini mungkin agak sulit untuk diterima bila dikaitkan dengan geografis sosiologis masyarakat Uleegle sendiri. Artinya, karakter “parang lam situek” bagi masyarakat Ulee Gle dulu memang sudah seperti menuang tanah.

Parkelahian dengan menggunakan parang antar warga dalam masyarakat Ulee Gle dulu sangat sering terjadi. Keberanian primordial karakter kelokalan “parang lam situek”bagi masyarakat Ulee Gle hampir tak dapat dipisahkan dengan keberanian dalam gerakan awal munculnya Aceh Merdeka (AM) di Aceh.

Sejak tahun 1970-an, setelah dideklarasikan Gerakan Aceh Merdeka tahun 1976 di bukit Halimun Tangse, sejak itu UleeGle telah dicurigai sebagai daerah basis Gerombolan Pengacau Liar Hasan Tiro (GPLHT) istilah yang diberikan untuk Gerakan Aceh Merdeka ketika itu. Dan sejak itu pula di Ulee Gle telah muncul tokoh-tokoh perjuangan AM yang sangat diwanti-wanti aparat keamanan.

Diantara tokoh AM yang lebih awal muncul di Ulee Gle pada era 1970-an antara lain Keuchik Andah Drien Tujuh, Zakaria (tertembak saat bergerilia di gunung Bracan Meureudu) dan Muhammad Nur Buket Teungeh. Mereka termasuk tokoh paling awal berjuang dalam gerakan AM di Ulee Gle sebelum muncul tokoh-tokoh lain di setiap daerah di Aceh. Ketiga tokoh ini telah almarhum.

Mereka korban dalam perjuangan jauh sebelum diberlakukan DOM di Aceh. Pasca meninggalnya tiga tokoh ini basis perjuangan AM di Ulee Gle ternyata tak pernah surut. Malah dalam masa diberlakukannya Daerah Operasi Militer di tiga Kabupaten di Aceh dulu, yaitu – Aceh Timur,- Aceh Utara dan – Pidie, Ulee Gle termasuk wilayah basis “jaring merah” yang menjadi sasaran utama Operasi Militer. Karenanya tak heran, kalau dalam masa DOM di Aceh korban yang paling banyak mungkin adalah di Ulee Gle.

Parut sejarah DOM di Aceh hingga sekarang masih membekas bagi masyarakat Uleegle bila kita membicarakan sejarah perjuangan Gerakan Aceh Merdeka dalam masa damai sekarang ini. Bekas luka sejarah GAM yang paling menganga di Ulee Gle masih dapat dilihat hingga hari ini dengan adanya sebuah Kampung Janda di Desa Cot Keng di kaki gunung Sala Dara Baro Ulee Gle.

Dinamai Kampung Janda, karena suami para janda di Desa Cot Keng Ulee Gle ini hampir tujuh puluh persen korban dalam masa DOM. Sehingga pada masa itu sempat membuat kampung Cot Keng ini menjadi krisis kaum laki-laki.

Sejarah ini sudah tentu sulit dilupakan masyarakat Ulee Gle, dan bahkan oleh semua rakyat Aceh. Pertanyaan kita, siapa yang bertanggung jawab terhadap para janda di desa Cot Keng dan masa depan anak- anak mereka di saat para petinggi GAM menikmati hasil perdamaian hari ini.

Dan patut pula dicatat dalam sejarah GAM adalah, awal terkuaknya konflik Aceh ke dunia internasional bermula dari Ulee Gle, yaitu pada saat Ir.Gani Nurdin Dosen Fakultas Pertanian Unsyiah dan aktifis LSM YADESA (sudah almarhum) memfalisitasi tiga perempuan janda dari desa Cot Keng Ulee Gle untuk melaporkan tindak kekerasan dan pelanggaran HAM yang terjadi di Aceh ke Komnas HAM di Jakarta tahun 1998.

Kedatangan tiga perempuan janda dari Cot Keng Uleegle ke Komnas HAM ini mendapat liputan media luar biasa dari dalam dan luar negeri, hingga kemudian Komnas HAM turun ke Aceh menginvestigasikan hasil laporan tiga perempun janda korban kekerasan dan pelanggara Ham oleh aparat keamaan negara di Ulee Gle.

Sejak itu pemberitaan konflik Aceh yang terus mendapat perhatian media dalam dan luar negeri yang membuat kasus Aceh tak dapat dibendung lagi oleh negara untuk ditutupinya. Apalagi seiring terkuaknya konflik Aceh saat itu, keluar pula Undang- Undang Kebebesan Pers tahun 1999. Sehingga masalah Aceh makin transparan diberitakan media masa.

Itu semua adalah bagian dari perjalanan karakter masyarakat Ulee Gle yang dikenal sebagai masyarakat “parang lam situek”, atau karakter masyarakat yang terkesan beringas dan berani menggerakkan pemberontakan. Meskipun akibat karakter itu mereka harus menanggung resiko nyawa sebagai taruhannya.

Namun demikian, tidaklah selamanya bila orang menyebutkan nama Ulee Gle langsung terkesan dengan masyarakatnya yang beringas dan seram. Cap “parang lam situek” yang pernah diberikan pada masyarakat ini telah buyar dengan sendirinya, seiring munculnya generasi-generasi terdidik baru yang mencoba melepas diri dari ikatan kultur kelokalan karakter “parang lam situek.”

~ Articel menarik lainnya

Iklan

Kunjungan balik ke blog sobat yang berkomentar sudah barang tentu !!! Terima Kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s