KISAH AJAIB TAPI NYATA SAAT TSUNAMI ACEH 10 TAHUN SILAM

tsunami_aceh-300x196

Warga Aceh pastinya akan selalu ingat dengan bencana tsunami 10 tahun silam.
Ratusan ribu orang tewas dalam musibah tersebut. Peristiwa itu tentunya menyimpan beragam cerita yang tentunya sebagian orang sebut itu aneh tapi nyata. Kisah unik bin janggal di selimuti misteri itu sendiri dituturkan dari para korban yang selamat..
Mungkin bisa dibilang keajaiban selalu ada di setiap musibah. Akhirnya dari salah satu kisah tersebut menjadi buah bibir masyarakat dunia.

• Berikut rangkuman kisah-kisah aneh yang beredar dimasyarakat saat tsunami besar melanda Aceh

• 1. Diselamatkan ular raksasa

10885534_1507398096206569_2466666070240077445_n
Ummikasum (60)

Kisah ini memang seperti tak masuk akal, namun ini sebuah kisah nyata. Kisah di balik selamatnya warga Aceh saat diterjang tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 lalu. Hingga memakan korban sebanyak 126.761 orang meninggal, 93.285 hilang, 25.572 terluka, dan 125.572 orang kehilangan tempat tinggal.

Ummikasum yang akrap disapa Maksum berprofesi sebagai juru memandikan mayat. Dia juga bidan kampung dan telah melakoni pekerjaan ini selama 35 tahun. Dia berkisah saat dirinya diselamatkan oleh seekor ular.

Kendati demikian, ia tidak ingat secara persis bagaimana cara dililit oleh ular tersebut. Hingga ia bisa selamat dari hantaman gelombang tsunami ini yang mencapai ketinggian gelombang sebatang pohon kepala tua.

Mulanya, Minggu pagi hari malapetaka bagi seluruh rakyat Aceh, Maksum sedang asyik menyiram dan membersihkan bunga yang ada di pekarangan rumahnya. Tiba-tiba sekitar pukul 08.00 WIB, bumi Aceh bergetar, bergoyang ke kiri dan ke nanan.

Baru ia sadar ternyata gempa berkekuatan 9,8 SR. Dia bersama seorang cucu yang masih berusia 5 tahun dalam gendongannya menjauh dari bangunan dan mencari tanah lapang.

“Dulu rumah saya besar dan saya sedang di luar, sedang tanam bunga,” jelas Maksum,
Saat bercerita, wajah Maksum yang sudah keriput tetap tersenyum. Meskipun kisah pilu yang ia ceritakan membuat ia teringat kejadian masa lalu. Ada 30 orang keluarga intinya meninggal, namun ia sudah bisa tertawa lepas sembari bercerita kisah unik dirinya selamat dari gelombang tsunami.

Saat itu anak keduanya berlarian ke arah dirinya dan mengatakan air laut naik ke darat. “Lalu saya jawab, yang tidak ada jangan minta ya,” ucapnya, dia pun terus melanjutkan membereskan bunga-bunga yang ada di pekarangan rumahnya.

Tiba-tiba, air laut benar-benar menerjang dirinya dari belakang. Letak rumah Maksum dengan bibir pantai hanya berkisar 400 meter. Hingga dirinya terjatuh dan cucunya dalam gendongan pun terlepas.

Meskipun saat itu dirinya berusaha untuk meraih cucunya, namun derasnya gelombang tidak sebanding dengan kekuatan tangannya saat itu berusia 50 tahun. “Sempat saya tarik cucu saya, tetapi kawat yang terpegang, sampai luka ini jari saya,” jelasnya sambil menunjukkan bekas jarinya yang luka. Sedangkan cucunya saat itu sangat jelas terlihat olehnya digulung oleh gelombang tsunami.

Saat itu dirinya tidak sadarkan diri lagi. Sehingga dia tidak bisa menceritakan bagaimana cara dirinya digulung oleh gelombang tsunami. Akan tetapi tiba-tiba dirinya sudah berada di daerah jembatan Krueng Cut yang berjarak sekitar 800 meter dari rumahnya.

Saat itulah dia baru sadar, bahwa bersamanya ada seekor ular besar yang melilit tubuhnya. Kepala ular tersebut menjulur ke arah wajah Maksum. Namun saat itu, Maksum tidak sedikit merasa takut.

Justru Maksum mengaku, sempat berbisik dengan suara nada lemas, meminta agar bisa diselamatkan ke daratan. “Saya bilang waktu itu, tolong selamatkan saya ke darat,” ucapnya dengan bahasa Aceh.
Lantas, ular itu mengantar ke darat langsung bergerak dan menenggelamkan dirinya dalam sungai dan lagi-lagi tiba-tiba dirinya sudah berada di jembatan Lamnyong, Darussalam dengan Jaraknya sekitar 300 meter.

Ketika itu, dirinya sudah mulai sadarkan diri. Bahkan dia mengaku bisa mendengar ada jeritan orang yang meminta tolong, termasuk melihat banyak orang yang digulung dalam gelombang arus sungai Krueng Cut tersebut.
“Saya waktu itu tidak ada lagi pakaian sehelai pun dan saya dalam sampah dan ular itu masih melilit tubuh saya,” jelasnya.

Maksum sejak usia 25 tahun telah menjadi seorang bidan desa dan juga menjadi orang yang selalu dipanggil saat ada orang meninggal. Profesi ini, Maksum mengaku akan terus dilakukan sampai hayat menjemputnya.

Lalu kisah Maksum bisa keluar dari tumpukan sampah dan lilitan ular di tubuhnya setelah 3 orang anak muda dari petugas Palang Merah Indonesia (PMI) menghampirinya. Mereka pun langsung mengangkat tubuh Maksum dari sungai tersebut.

“Saya sempat bilang, ada ular di tubuh saya melilit, namun salah satu dari mereka bilang tidak apa-apa, ular itu tidak menggigit kita,” kenangnya. Namun ia sendiri tidak ingat lagi ketiga anak muda itu. Padahal ia ingin sekali mengucapkan terimakasih pada relawan PMI ini. Namun, sayangnya Maksum tidak mengenalinya.

Lalu Maksum kembali berkisah, saat dirinya diangkat oleh 3 relawan PMI ini. Secara perlahan-lahan ular yang melilit tubuhnya tadi langsung melepaskan dirinya dan lalu menghilang dalam sekejap ke dalam sungai.

Kini Maksum menempati sebuah rumah bantuan di lokasi semula. Untuk mengisi waktu luang, ia membuka sebuah kios berjualan makan anak-anak dan juga kebutuhan bahan pokok rumah tangga.

• 2. Kubah tsunami dan pria berjubah putih

kubah-masjid-ajaib

Kubah tsunami desa Gurah, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar

Ada lagi kisah dari warga desa Gurah, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar.
Menurut warga sekitar bukit tersebut, ketika gelombang tsunami menerjang ada kubah masjid yang terdampat hingga ke kampungnya. Padahal dari tempat semula di Masjid Jami Desa Lam Teungoh berjarak sekitar 2,5 Km dari kampung wara.
Oleh warga sekitar kubah ini pun dinamakan kubah tsunami.

Karena proses perpindahannya menurut warga karena gelombang tsunami.
Terdamparnya kubah ini di tengah-tengah persawahan dan berada di lereng gunung menyisakan banyak cerita mistis. Bahkan warga setempat meyakini ada kekuatan mistik hingga kubah ini terdampar sejauh itu.
Sriana (30), seorang pemandu yang telah bekerja setahun ini pernah menemukan tamu yang datang ke tempat ini berkelakuan aneh.

Sekitar beberapa bulan lalu, dia mendapati seorang pengunjung paruh baya berdiri terpana saat melihat kubah tersebut.
Lantas, karena Sriana penasaran dengan tingkah laki-laki paruh baya ini, dia bertanya ada apa gerangan sampai ia termenung dan mengucapkan kalimah-kalimah Allah.
“Jadi saya tanya kenapa, lalu laki-laki paruh baya itu bilang ada yang membawa kubah ini oleh 3 orang beserban putih,” kata Sriana.

Namun sayang, Sriana tidak ingat lagi nama laki-laki tersebut. Demikian juga tidak mengetahui keberadaannya. Karena laki-laki paruh baya itu datang sendiri saat itu. Sriana penasaran dengan perkataan laki-laki misterius ini, lalu dirinya kembali bertanya siapa sosok berpakaian serba putih itu sebanyak 3 orang.

Lalu laki-laki paruh baya itu menyebutkan, seorang ulama besar dan memiliki 2 murid yang selalu bersamanya, yaitu Hamzah Fansuri
bersama kedua muridnya yang membawa kubah ini. “Ini kan kisah mistis, tidak diperlu terlalu percaya, tetapi cukup kita jadi pengetahuan saja, karena bisa saja terjadi hal-hal unik seperti itu, tetapi jangan percaya 100 persen, timpalnya.

Sriana mengaku, tidak jauh dari Masjid Jami, Masjid tempat kubah ini semula ada kuburan seorang ulama besar di Aceh, Tgk Hamzah Fansuri bersama 2 muridnya. Makam tersebut, katanya, saat ini sudah dilakukan pemugaran
dan bahkan banyak orang pergi berziarah.

Makam ini banyak orang percaya adalah seorang ulama yang keramat dan memiliki ilmu keislaman yang tinggi. “Di sana memang ada 3 kuburan, 1 kuburan Tgk Hamzah Fansuri, 2 muridnya, makam- makam ini terletak di Ujung Pancu,” jelasnya.
Kisah Tgk Hamzah Fansuri memang banyak terjadi kontroversi. Meskipun sudah pergi 4 abad lalu, nama harumnya bisa terkenang sampai saat ini.

Hamzah Fansuri selain seorang penyair terkenal dan juga meninggal ajaran sufisme hingga menyebar ke daerah-daerah. Sehingga keberadaannya pun misterius, ada banyak pendapat dan beberapa lokasi kuburan yang dipercaya Tgk Hamzah Fansuri.
Kuburan pertama dipercaya ada di Desa Oboh, Kecamatan Runding, Kota Subulussalam.

Kemudian satunya lagi berada di di Desa Ujung Pancu, Kecamatan Pekan Bada, Kabupaten Aceh Besar dan pendapat terakhir berada di Makkah.
Sampai saat ini keberadaan pasti makam Tgk Hamzah Fansuri ini tetap misterius dan membuat banyak orang bingung. Kemudian kembali ada pengakuan Kubah Tsunami yang terdampar ini di tengah sawah Tgk Hamzah Fansuri dan kedua muridnya dengan menggunakan baju serba putih yang menyelamatkannya.

Sejak sebelum tsunami, daerah ini merupakan persawahan warga. Saat tsunami menerjang Aceh, baru banyak orang mengunjungi daerah ini. Tentu punya alasan wisatawan datang yaitu ingin menyaksikan Kubah Tsunami yang terdampar dari Masjid Jami berasal dari desa Lam Teungoh. Jarak terdampar sekitar 2,5 Km dari tempat semula.
“Ada 7 orang selamat dalam kuba ini dan kubah ini ibarat kapal bagi mereka saat tsunami terjadi,” jelas Sriana.

Kubah ini berbentuk bulat. Di dalam kubah ada cekungan yang terbuat dari semen. Di bawah kubah ada seperti lantai. Menurut Sriana, yang berbentuk lantai ini diperkirakan atap Masjid yang terlepas dan menjadi pondasi kubah ini yang berdiri kokoh.
“Diperkirakan bobot kubah ini sampai 80 ton,” jelasnya.

• 3. Saat tsunami Masjid Rahmatullah tetap kokoh berdiri

45f84-masjidaceh2
Masjid Rahmatullah di Lampuuk Nangroe Aceh Darussalam

Cerita lainnya adalah Masjid Rahmatullah di Lampuuk Nangroe Aceh Darussalam. Masjid ini masih kokoh saat tsunami menerjang masjid tersebut. Padahal saat tsunami datang, seluruh bangunan hancur dan terhempas hingga ratusan meter dan masjid Rahmatullah masih kokoh berdiri meski letaknya 500 meter dari bibir pantai masih berdiri dengan kokoh.
Masjid itu dibangun pada 12 September 1997 oleh Gubernur Aceh saat itu Syamsudin Mahmud.

Masjid ini menjadi satu-satunya bangunan yang masih kokoh dari sebuah perkampungan di Kecamatan Lhoknga,Kabupaten Aceh Besar.
Sebelum Tsunami, perkampungan ini dihuni oleh sekitar 6.000 jiwa. Kebanyakan berasal dari kelas menengah ke atas. Masyarakat di perkampungan ini kebanyakan karyawan PT. Semen Andalas Indonesia. Ada juga nelayan dan petani.

Demikian , beberapa kejadian yang terjadi di Aceh saat tsunami 10 tahun lalu.

~ Articel menarik lainnya

Iklan

Kunjungan balik ke blog sobat yang berkomentar sudah barang tentu !!! Terima Kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s