Akankah Aceh Meniru Brunei Disegi Menerapkan Syariah

10362849-754597487926485

Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah

Kesan “Syariahisasi” di Aceh tak lebih merupakan “permen” yang menghibur warga Aceh yang awam, rakyat jelata, untuk membangkitkan romantisme Aceh masa lalu, ketimbang upaya serius untuk melahirkan Aceh baru yang berbudaya tinggi dan beradab.

“SULTAN_Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah sukses sudah menerapkan sistem hukum pidana berbasis ajaran Islam atau hukum syariah. Hukum tersebut telah diterapkan mulai Kamis (1/5/2014) secara bertahap..

Hari ini, dengan nama Allah dan bersyukur kepada-Nya, saya mengumumkan bahwa besok (hari ini), Kamis 1 Mei 2014, akan diberlakukan hukum syariah tahap satu, dan akan diterapkan secara bertahap, ujar Sultan dalam pidatonya, Rabu (30/4/2014).

Hukum itu memang tak main- main, apalagi yang menerapkannya Sultan berusia 67 tahun, penguasa mutlak dan salah satu orang terkaya di dunia. Seorang ayah sekaligus tokoh yang kata-katanya tidak diragukan lagi di negara yang kaya akan minyak itu.

Sultan Bolkiah dilahirkan pada tanggal 15 Juli 1946 di Brunei Town (sekarang disebut Bandar Seri Begawan). Ia menjadi putra mahkota pada tahun 1961 dan sultan pada 5 Oktober 1967, setelah ayahnya turun tahta secara sukarela. Penobatannya diadakan pada tanggal 1 Agustus 1968.

Hassanal Bolkiah memiliki gelar “Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Baginda Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah. Sultan dan Yang Dipertuan Negara Brunei Darussalam.”

Hukuman syariah tersebut bakal diterapkan secara bertahap. Bentuk hukuman itu di antaranya cambuk, memotong anggota badan sampai eksekusi mati dengan cara dirajam untuk beragam jenis kejahatan.

berunai

Meski putusan didukung banyak anggota etnis mayoritas Melayu Muslim, hujan kritik sempat mengguyur Sultan atas penerapan hukuman tersebut. Tak cuma dari warga non-Muslim dan pengguna media sosial di Brunei, kritikan juga datang dari organisasi Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB).

Melalui kantor hak asasi manusia, PBB mengaku prihatin atas ditetapkannya hukum syariah tersebut. Pasalnya, menurut PBB, hukuman rajam ataupun cambuk melanggar hukum internasional. Hukuman semacam itu di klasifikasikan sebagai penyiksaan, sadis, tidak manusiawi atau merendahkan hukuman lain.

Wakil Direktur Asia untuk Kantor Hak Asasi Manusia, Phil Robertson, mengibaratkan pemberlakuan hukuman tersebut seperti kembali ke abad pertengahan. “Ini seperti kembali ke abad pertengahan. Ini merupakan sebuah langkah besar HAM di Brunei dan jauh keluar dari abad 21,” ujar Phil.

Namun, Sultan pun menjawab kritikan itu. Sultan memerintahkan kritik itu dihentikan hingga akhirnya mereka tak berkutik. “Teori menyatakan bahwa hukum Allah itu kejam dan tidak adil, tapi Allah sendiri telah mengatakan bahwa hukum itu memang adil,” kata Sultan menjawab kritikan itu.

Sultan Bolkiah membela penerapan hukum itu, yang dimaksudkan untuk menopang Islam dan menjaga negara itu dari pengaruh luar. “Kami tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain. Kami tidak pernah mengandalkan mereka untuk menerima kami atau setuju dengan itu, tetapi sudah cukup jika mereka menghormati kami dengan cara kami menghormati mereka,” ujarnya

Para pejabat telah berusaha meredakan kekhawatiran. Mereka mengatakan, untuk memutuskan hukuman, diperlukan bukti yang sangat akurat. Hakim pun memiliki diskresi yang luas untuk menghindari hukuman syariah.

brunei-bandar-seri-begawa

Salut sama Sultan Brunei..!

Akankan Aceh bernasib demikian, kurang berarti UUPA yang di istimewakan untuk rakyat Aceh jika tak menjalankan hukum islam secara kaffah, sekata pula pantaskah Aceh berlabel Serambi Mekkah …? Sedang Aceh sendiri enggan menjalankan syariat yang semestinya. Akan lebih elok jika brunei saja yang menyandangnya. ” BRUNEI SERAMBI MEKKAH,
He,he lucu pula ya,.!
Mudah-mudahan Aceh ikut meniru Brunei agar negri Aceh makmur dan sejahtera amien.

~ Articel menarik lainnya

Iklan

Kunjungan balik ke blog sobat yang berkomentar sudah barang tentu !!! Terima Kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s