kisah Heroik Panglima Agam Ishak Daud wilayah Peurelak ‘ tamat


Pasukan Ishak Daud

Siang begitu terik ketika kami tiba di Desa Lhok Jok. Begitu kami akan menjangkau desa itu, mobil diberhentikan oleh pasukan GAM bersenjata lengkap untuk digeledah.So here we are.. pikir saya nelangsa..

Saya membawa tas kamera besar (saya memang juga bekerja untuk European Press Photo Agency (EPA) saat itu) yang berisi satu body kamera Canon D10, dua lensa, 6 buah batere kamera, 2 buah kartu memory card camera 512 megabytes, notes, handphone (yang sama sekali tidak bisa digunakan karena tidak ada sinyal), pulpen, kain batik panjang, sikat gigi, inheler ventolin (saya asma berat), 10 butir obat alergy salbutamol, senter kecil (warna hitam pemberian sobat saya wartawan BBC).

Anggota GAM bersenjata lengkap itu membawa kami menuju ke sebuah meunasah di Desa Lhok Jok.

“Pat Teungku Ishak? (mana Teungku Ishak?)” tanya Munir yang sedari tadi sibuk mengambil gambar dengan handy cam-nya.

”Abusyik siat trek troh Bang, neupreh mantong (Abusyik sebentar lagi datang, tunggu saja),” kata si prajurit.

Kami duduk di dekat Meunasah yang mulai ramai oleh masyarakat. Sebuah mobil sedan berhenti tak jauh dari kami. Pengacara Ishak Alfian turun membawa istri Ishak Daud, Cut Rostina dan dua anaknya.

Tak lama kemudian Ishak Daud muncul dari kejauhan bersama dengan belasan pasukan GAM bersenjata lengkap. saya yang mengambil gambar Ishak dengan lensa panjang saya cukup kaget melihat kondisi Ishak. Diakui atau tidak Panglima itu memang agak berubah. Kini beliau lebih kurus, lebih hitam dan kelihatan lelah.

Perbedaan lain, kini Teungku Ishak menenteng AK-47 untuk dirinya sendiri. Ada peluru cadangan di kantong celananya. Padahal sebelumnya saya melihat beliau hanya memakai pistol FN. Ransel hitam di punggungnya kelihatannya sangat berat.

Namun senyumnya sama pada saat saya bertemu dengan beliau setahun yang lalu. Dan terus terang saja, kondisi itu malah membuat beliau makin tambah keren.

Ishak tidak menghampiri kami. Dia langsung menghampiri istri dan anaknya. Saya melihat Ishak memeluk anak laki-lakinya Ambiya dengan erat. Ada kerinduan yang bisa saya lihat dari moment pertemuan Ishak dan keluarganya.

Setelah itu barulah beliau menyalami para wartawan. Senyumlah langsung merekah begitu melihat saya. Seperti biasa dia menyalami saya buru-buru ketimbang teman wartawan laki-laki lainnya.

”Nyan ban, menyo hana lagee nyan hana mungken tanyoe meurumpok. Betoi ken Nani (Nah kan, kalau tidak seperti ini mana mungkin kita bertemu. Iya kan Nani)?” kata Teungku Ishak.

Saya tersenyum kecut.

Kami ngobrol-ngobrol soal prosesi pembebasan Fery. Imam dan teman-teman lain mendominasi pembicaraan, sementara saya sibuk mengambil foto prajurit GAM yang mondar mandir.

Ishak mengatakan kalau prosesi penyerahan Ferry baru bisa dilakukan besok siang. Masalahnya bukan hanya Fery yang akan diserahkan ke ICRC tetapi juga ratusan masyarakat yang selama ini berlindung pada GAM karena diancam TNI. Masalah lain adalah karena jumlahnya ratusan, mereka berada di tempat-tempat berbeda-beda. Butuh waktu untuk membawa mereka semua ke Lhok Jok.

”Perlu waktu dua tiga hari lah,” kata Ishak santai.

Saya mengerutkan kening, dua tiga hari? Loh bukannya kami hanya menginap semalam?

Ishak sepertinya mengetahui pikiran teman-teman wartawan. Dia tertawa.

”Orang-orang itu sama seperti Fery, mereka butuh perlindungan ICRC jadi harus diperlakukan sama,” katanya. ”Dan karena kalian semua sudah disini, kalian harus menunggu proses sampai selesai,”

Ishak kemudian menambahkan kalau dia akan melakukan kenduri (acara makan-makan) di Lhok Jok dalam prosesi penyerahan Fery. Semua sudah siap, termasuk konsumsinya.

Saya mencoba untuk tidak mengeleng-gelengkan kepala. Ampyunnnn.. Dalam kondisi begini masih sempat-sempatnya acara kenduri. Jangan-jangan Teungku Ishak lupa kalau diluar sana TNI sedang sebel-sebelnya menunggu prosesi ini agar cepat selesai….

Imam kelihatan cemas. Saya tahu alasannya. TNI hanya memberikan waktu tidak lama untuk prosesi pembebasan Fery. Nah kalau sampai dua tiga hari bisa bahaya..

Rekan-rekan wartawan akan menginap di meunasah bersama prajurit GAM lain. Ishak menoleh ke saya.

”Nani dem bak rumoh masyarakat beh. Mangat lebeh mangat eh (Nani nginep di rumah masyarakat ya. Supaya tidurnya lebih enak),” katanya.

Saya langsung menolak. Kalau mau tidur enak jelas dirumah sendiri di Sigli sana bukannya di sini. Dalam kondisi seperti ini lagi.

”Lon bah disinoe teungku. Meusapat ngon yang laen (saya biar disini Teungku, barengan sama yang lain),” kata saya.

”Betoi? disinoe le nyamok (beneran? Disini banyak nyamuk),” dia seolah tak percaya.

”Betoi, tapi jeut lon lakee bantai saboh (Benar, tapi boleh minta bantal satu)? Kata saya cengengesan.

Setengah jam kemudian saya mendapatkan bantal yang lumayan empuk. Sarung bantalnya merah jambu dan baunya sangat bersih. Pasti dari masyarakat di sekitar. Bukan hanya saya, teman-teman lain juga mendapatkan bantal.

Sementara Teungku Ishak sudah menghilang. Kata anak buahnya dia menginap di rumah salah satu kerabatnya di Lhok Jok bersama anak dan istrinya.

Sore menjelang. Kami bersama beberapa anggota GAM menuju tempat untuk cuci muka dan mandi. Saya tidak mandi, hanya cuci muka saja. Beberapa dari prajurit GAM malah sudah bercelana pendek dan mandi di sumur yang bersih itu. Senjata mereka diletakkan tak jauh dari pakaian mereka. Sepertinya mereka balas dendam dengan banyak memakai air. Saya berdiri agak jauh dari mereka. Risih saya.

”Jarang-jarang kami dapat air Kak, makanya kalau ada air ya kami mandi puas-puas,” kata salah satu prajurit GAM yang menemani saya menunggu rekan-rekannya mandi.

Saya mangut-mangut. Dari jauh saya melihat beberapa dari prajurit sepertinya keramas karena busa shampoonya banyak sekali.

Selesai mandi dan sudah dalam kondisi wangi (bau sabun, shampoo dan colonge entah apa mereknya).

Sore makin gelap. Kondisi perkampungan kini gelap gulita. Tidak ada listrik di kampung itu karena sudah lama pihak GAM memutus aliran listrik. PLN tidak berani masuk ke kampung itu karena terkenal sebagai basis GAM. Kampung itu sering didatangi GAM karena lokasinya dekat dengan perbukitan.

Meunasah itu diterangi oleh gengset yang suaranya membuat kepala saya sakit. J

Para prajurit GAM itu melakukan shalat magrib berjamaah dengan khusuk. Setelah itu hidangan makan malam terhidang menunggu untuk disantap.Saya lupa menu malam itu. Tetapi kami makan dengan perasaan senang.

Ishak datang mengunjungi kami seusai shalat Isya. Dia membawa serta Ambiya anaknya. Kami ngobrol macam-macam, mulai dari darurat militer, perdamaian yang gagal, kronologis penyanderaan Fery versi Ishak Daud, dan yang sudah saya duga soal wartawan yang dianggap memihak ke tentara.

”Seharusnya wartawan itu mencari berita turun langsung ke masyarakat, bukan malah dari tentara. Itu kan namanya tidak objektif,” katanya serius.

Kami yang hadir mangut-mangut takzim.

”Kalau hanya dari militer bagaimana kalian tahu kebenaran yang terjadi. Masyarakat sudah banyak yang jadi korban, masa kalian pura-pura tidak tahu,” balasnya lagi.

Menjelang pukul 9 malam, Ishak pamit dan meminta kami semua istirahat. Salah satu anggota GAM memberikan lotion anti nyamuk kepada kami.

”Nyamuk disini besar-besar, ini bisa membantu,” katanya sambil tersenyum ramah.

Saya merebahkan diri di lantai pojokan meunasah yang dialasi tikar. Menutup tubuh saya dengan kain batik panjang. Cukup lama juga saya tidak bisa tidur. Bahkan saat gengset itu akhirnya dimatikan dan sekeliling menjadi begitu gelap. Yang terlihat kini hanyalah beberapa bayangan prajurit GAM berjaga di bawah sinar bulan…

Saya bangun menjelang subuh. Beberapa prajurit GAM saya lihat shalat dengan khusuk.

Hari itu aktifitas kami hanyalah menunggu kedatangan Fery yang dijadwalkan akan tiba siang hari. Tidak banyak yang kami lakukan. Imam sibuk membaca buku harian Fery yang dipinjamkan Ishak, sementara saya sibuk mengambil foto dan bercakap-cakap dengan prajurit GAM lainnya.

Masyarakat terlihat bolak balik di tempat itu. Terkadang mereka bercakap-cakap dengan anggota GAM dengan akrabnya. Perempuan-perempuan juga kelihatan sibuk menyiapkan makan siang.

Menjelang siang suasana panasnya luar biasa. Saya mulai bosan dan akhirnya menghampiri Ishak Daud yang baru saja menerima telpon dari wartawan lewat telepon satelitnya.

”Teungku, lon meuheut mita ie leupie. Jeut lon jak siat mita kios (Saya ingin minuman yang dingin, bisa saya pergi sebentar cari kedai?)” tanya saya.

Ishak langsung mengeleng.

”Hanjeut. Mandum wartawan harus na disinoe.Lon yang tanggung jaweb. Peu meuheut jeb ( Nggak boleh. Semua wartawan harus ada disini. Saya yang tanggung jawab. Kamu mau minum apa)?” tanyanya.

Secara refleks saya melihat pohon kelapa yang terlihat berjejer di dekat meunasah.

”Ie U jeut chit (air kelapa boleh deh),” kata saya.

Hanya 30 menit kemudian satu baskom air kelapa muda sudah ada di depan saya. Bukan hanya kelapa muda, tetapi lengkap dengan es dan sirup merah yang dari baunya saya tahu itu pasti sirup cap patung, kegemaran orang Aceh.

Es dan sirup. Bayangkan di tempat seperti ini yang tidak ada listrik, ada es. Dan sirup itu. Luar biasa. Padahal saya cuma mau minum kelapa muda biasa untuk tidak merepotkan. Tapi ini, kelapa muda dengan sirup dan es. Sangat luar biasa.

Saya melihat tim ICRC sudah datang. Mereka disambut Ishak dengan ramah. Fery akan datang sebentar lagi.

Setelah makan siang, yang ditunggu datang. Fery muncul dengan serombongan pasukan. Dia langsung memeluk Imam yang terlihat terharu.

Semula Ishak tidak mengizinkan Fery untuk keluar dengan ICRC. Tetapi setelah ICRC berjanji untuk membawa Fery kembali besoknya, Ishak akhirnya setuju. Dia juga minta kami untuk menginap semalam lagi sebagai jaminan. Nah loh

Akhirnya kami terpaksa bertahan disana. Melepas kepergian Fery dengan mobil hingga hilang dari pandangan. Hanya sedikit yang tahu bahwa saya sempat menitipkan satu memory card kamera saya untuk wartawan yang berada di Langsa. Firasat saya minimal ada foto yang bisa selamat dari sini seandainya terjadi apa-apa pada saya.

Sore datang, kali ini kembali kami bersama anggota GAM lain menuju sumur untuk bersih-bersih.

Pulangnya saya duduk disamping salah seorang prajurit GAM (saya lupa namanya) yang sedang membersihkan AK-47-nya. Dengan bangga dia memperagakan bagaimana membuka bagian-bagian dari senjatanya dan membersihkannya dengan minyak mesin jahit bermerek singer.

”Cara pegangnya begini Kak, nah karena setiap mengeluarkan peluru sentakannya kuat, maka gagang AK ini ditaruh di pangkal lengan begini…” katanya memperagakan. Saya mangut-mangut.

”Kita bisa setel jumlah peluru yang keluar. Bisa satu-satu, bisa juga dua dua namanya semi otomatis. Nah kalau yang otomatis bisa keluar banyak sekalian, tapi kan rugi kak. Kata Abusyik kita harus hemat,” katanya sambil memberitahu saya bagaimana cara menyetel otomatis dan semi otomatis di senjatanya.

Berikutmya dia mengajari saya memasukkan peluru AK ke dalam magazen. Menurutnya setiap anggota GAM punya magazen cadangan. Si prajurit sangat bangga memakai AK-47. Alasannya senjatanya itu badung dan tidak cepat meleyot seperti senjata lainnya.

Hanya dalam waktu sejam saya tahu bagaimana cara kerja senjata itu langsung dari ahlinya. Setidaknya secara teori.

Malam turun. Suara gengset yang menyebalkan itu terdengar lagi. Saya baru saja bersiap-siap akan tidur ketika mendengar ada kegaduhan di luar meunasah. Rupanya Ishak mendapat informasi kalau TNI tidak mau memberikan waktu sehari lagi untuk pelepasan sandera. Sejumlah tank dan ratusan pasukan TNI sedang dikerahkan untuk mengepung Desa Lhok Jok berikut kami yang berada disana.

Saya langsung punya firasat buruk. Saya mengemasi semua barang-barang saya dan menyusul teman-teman saya di luar meunasah.

Imam sudah mencoba meminta kepada teman-teman di Langsa untuk memberi waktu sehari lagi. Tetapi sepertinya tidak berhasil. Kami berlima duduk dalam kondisi syok. Bingung harus berbuat apa.

Para prajurit GAM sepertinya marah. Marah karena rencana tidak sesuai dengan rencana mereka. Dan kemarahan mereka sudah pasti diarahkan ke kami.

”Ka pasti lagee nyoe akhee buet. Yang paih tatimbak saboh-saboh mangat leuh mandum. Hana payah tanyo (Sudah pasti akhirnya begini. Yang benar kita tembak satu-satu supaya kita tidak perlu repot),” kata seorang anggota GAM dengan mata nanar.

Yang mengancam itu, kita panggil saja Mr X, sudah sejak siang sepertinya benci sekali pada wartawan. Dia memakai kalung yang bandulannya berbentuk kain yang saya pikir adalah jimat. Wajahnya seram.

Kata orang, si Mr X itu adalah pencari dana untuk GAM yang dulu ngetop dengan istilah pajak nanggroe. Saya melihat sejak siang dia kerap mengintimidasi saya lewat perlakuan dan kata-kata. Kemana-mana dia membawa kantong plastik berwarna hijau berisi buku catatan dan.. ada pistol jenis (kalau tidak salah) FN disitu.

Setelah mengucapkan kalimat itu, si Mr X mengambil kantong plastiknya dan langkahnya langsung menghampiri saya. Kelakuannya didukung oleh yang lain. Semua bicara dengan bahasa daerah yang saya dan Munir mengerti, tetapi tidak untuk teman saya yang lain.

Melihat itu Teungku Ishak menenangkan Mr X dan anak buahnya.

”Nyan ken cara keu masalah nyoe (Bukan ini cara menyelesaikan masalah ini),” katanya sambil memandang si Mr X tegas. ”Tanyoe hanjeut poh wartawan ntrek donya hana geudukung tanyo lee (Kita tidak bisa bunuh wartawan karena internasional tidak akan mendukung kita lagi),”

Si Mr X mundur. Pistolnya kembali dimasukkan ke kantong plastiknya. Saya gemetaran. Antara takut dan marah.

Akhirnya diputuskan untuk membawa wartawan ikut ke gunung. Ini sama seperti penyanderaan jilid ke II tetapi dengan jumlah sandera lebih banyak.

Ishak mengoda kami yang pucat pasi. Dia menyanyikan lagu anak ayam. Istilahnya dia melepaskan satu anak ayam yaitu Fery tapi dapat 5 anak ayam lainnya yaitu kami. Busyettt dah ah ah.

Sementara para prajurit GAM itu malah senang karena ada yang perempuan yang ikut.

”Kana ureung taguen bu ke tanyo, betoi ken kak (Sudah ada orang yang masak nasi buat kita. Iya kan kak)?” kata mereka sambil cengengesan.

Terlepas dari rasa takut, saya membalas.

”Lon hanjeut maguen. Ie mantong hangoh (saya tidak bisa masak. Air saja hangus),” kata saya yang ditimpali cekikikan mereka.

”Tanyoe jeut tasiap-siap (Kita siap-siap sekarang),” kata Teungku Ishak ke anak buahnya.

Teungku Ishak kemudian memasang stagen panjang di perutnya. Stagen itu yang membuat si panglima tidak kelelahan saat jalan jauh dan juga mencegah turun berok bila memanggul barang berat. Setelah rapi, dia membagi kami ke empat kelompok.

Dan olala.. saya dimasukkan ke kelompok si Teungku bersama Imam.

Saya berpikir keras bagaimana bisa saya lepas dari masalah ini. Sebuah ide muncul. Dan saya langsung menghampiri sang panglima yang sepertinya sedang bersiap-siap.

”Abusyik,” panggil saya. (Ini pertama kalinya saya memanggil beliau dengan panggilan non-formal itu)

Ishak menoleh ke saya.

”Peu Nani? Ye? (kenapa Nani? Kamu takut?” tanyanya to the point seolah membaca pikiran saya.

Saya menatap sang panglima serius.

“Lon kon ye, tapi lon gohlom peugah bak mak, lon jak bak droun. Misal jih teukeudi na masalah, kiban? So tanggung jaweub ke mak lon? Droun? (Saya bukan takut, tapi saya belum bilang sama mamak saya pergi ke tempat anda. Kalau misalnya terjadi apa-apa gimana? Siapa yang tanggung jawab? Teungku Mau?)” kata saya.

Di luar dugaan Teungku Ishak tertegun. Kemudian dia menatap saya dan tersenyum. Senyum yang saya rasa tulus karena tidak ada sinar kesinisan disitu.

“Boh kajeut, Nani preh disinoe. Jadi jeut kalen kiban kondisi masyarakat watee ditamong tantra (jadi boleh, Nani Tunggu disini. Jadi bisa melihat kondisi masyarakat kalau tentara masuk),” katanya.

Para kelompok GAM itu berangkat satu-satu. Meninggalkan saya dengan masalah baru yaitu bagaimana menghadapi tentara yang akan masuk. Saat itu saya berpikir apa keputusan saya tidak ikut Teungku Ishak sudah keputusan yang tepat? Lebih enak mana berhadapan dengan TNI atau GAM. Ini pilihan sulit.

Beberapa masyarakat memberikan saya minum dan selimut. Mereka juga mengajari saya bagaimana tiarap dan juga berlaku bila sedang diperiksa TNI. Mereka minta saya sabar dan banyak berdoa.

Saya terharu. Masyarakat. Mereka selalu menjadi korban. Tapi mereka begitu tabah dan tidak pernah mengeluh. Meski kadang rumah mereka dibakar, anak mereka ditangkap, kemudian terbunuh, atau harus membayar pajak pada GAM… Mereka tergencet diantara GAM dan TNI. Sampai kapan mereka akan terus begitu?

Saya sudah pasrah. Tetapi Allah masih melindungi saya. Negosiasi teman-teman kami di Langsa membuahkan hasil. TNI akhirnya memutuskan memberi waktu 24 jam lagi untuk Gam melepaskan masyarakat.

Hanya dalam waktu 1 jam kondisi kembali aman, dan para GAM yang sudah masuk hutan itu kembali ke Lhok Jok. Saya melihat Teungku Ishak senyum-senyum saat kembali ke Meunasah.

”Na yang ye ke mak, (ada yang takut ke Mamaknya),” katanya menggoda saya ketika melihat saya menyambut kedatangannya.

Meskipun kondisi sudah aman, saya tetap tidak terima diintimidasi oleh MR X. Saya kemudian bicara pada Teungku Ishak saat saya menemukan dia sendirian.

”Lon hana teurimong aneuk buah droun yang ancam-ancam lon nyan (saya tidak terima anak buah anak yang ancam-ancam saya itu),” kata saya begitu duduk disebelah Ishak.

”Lon lakee meah beh. Awak nyan memang bingkeng. Tapi sebetoi jih get akai (saya minta maaf ya, mereka memang agak pemarah, tapi sebetulnya mereka orangnya baik kok),” kata Ishak menenangkan saya.

(NOTE: Saat masa damai saya mencoba men-trace keberadaan si MR X. Belakangan saya mendapat info kalo Mr X saat ini dipenjara di Philipina karena ketahuan menyeludupkan senjata untuk GAM hanya berselang beberapa hari sebelum penandatanganan perjanjian damai. Saya tidak tahu harus senang atau malah kasihan)

Ishak kelihatannya senang karena semua berjalan sesuai rencana. Kenduri berhasil dilangsungkan. Masyarakat sudah diserahkan ke ICRC, dan Fery mau kembali ke Lhok Jok untuk acara.

Kami berpisah sore harinya. Ishak menjabat tangan saya. Kali ini lebih lama dan akrab.

”Pajan-pajan tanyoe ta meurumpok lom tapi laen watee lakee izin ilee bak Mak (Kapan-kapan kita ketemu lagi, tapi kali ini izin dulu sama mamak ya),” katanya sambil tersenyum.

Kali ini saya tidak bisa menahan tawa.

Ishak menghilang di kejauhan diikuti anak buahnya. Tidak ada pernah terbersit dalam pikiran saya bahwa itu adalah pertemuan terakhir saya dengannya. Bulan September 2004 atau 4 bulan setelah pertemuan saya terakhir, saya mendapat info kalau Teungku Ishak sudah tertembak dan meninggal bersama Istrinya Cut Rostina.

Saya sempat tertegun dengan informasi itu. Karena ingatan saya pada beliau begitu kuat. Saya tidak menyangka Ishak Daud akan pergi secepat itu padahal beberapa bulan ke depan Aceh akan berdamai… Ishak pergi tanpa pernah merasakan manisnya perdamaian seperti para petinggi GAM lain yang kini bergelimang harta, jabatan dan istri yang cantik-cantik.

Terlepas dari kejadian terakhir di Lhok Jok, saya tetap mengagumi sang panglima sebagai komandan GAM terbaik. Buat saya beliau tidak hanya berkharisma dan alim, tetapi juga sangat menghormati perempuan. Untuk wartawan perempuan seperti saya, liputan di wilayah konflik berarti harus siap juga dengan gangguan, godaan bahkan terkadang pelecehan seks. Tetapi, beberapa kali bertemu dengan Teungku Ishak, saya merasa diperlakukan cukup baik dan terhormat.

Selamat Jalan Teungku Ishak, saya akan selalu mengenangmu…

TAMAT

sumber : naniafrida

~ Articel menarik lainnya

Iklan

One comment

Kunjungan balik ke blog sobat yang berkomentar sudah barang tentu !!! Terima Kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s