Nasib Mantan Serdadu GAM di Aceh Tak Ubahnya Seperti Marinir Amerika

gam19
foto serdadu gam

Trenyuh hati saya saat membaca rubrik Internasional di TEMPO edisi 26/12 – 1/1. Setelah ditarik pulang dari medan perang di Irak dan Afganistan, para prajurit Marinir Amerika tak semuanya hidup senang sebagai veteran perang, pembela tanah air Amerika. Diceritakan seorang pemuda usia 25 tahun bernama Clayton Rhoden sewaktu bertugas di medan perang berpenghasilan USD 2500/bulan -setara Rp 20 jutaan- cukup besar, apalagi kalau dia hidup di Indonesia..

Setelah pulang ke rumah orangtuanya di Ohio, ternyata dia jadi pengangguran, Clayton terpaksa menjual plasma darahnya agar mendapat penghasilan USD 80/minggu atau USD 320/bulan. Kadang-kadang dia juga mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar dari bekas kesatuannya Marinir Amerika. Tragis pahlawan bangsa Amerika setelah purna tugas sebagai tentara cadangan.

Clayton beruntung masih bisa berlindung di rumah orangtuanya, mungkin ratusan ribu veteran perang Irak-Afganistan lainnya terancam jadi gelandangan, karena pemerintah Amerika diberitakan baru mampu menyalurkan 50% veteran ke lapangan kerja lain sampai tahun 2020. Apa Amerika harus bikin perang baru untuk membuka lapangan kerja bagi rakyatnya ?

Nasib serupa dengan tentara cadangan Marinir Amerika, yang menganggur diusia belia sekitar 25 tahun, mestinya mengancam bekas para anggota GAM. Setelah situasi damai tercipta di Aceh beberapa tahun lalu, para anggota GAM yang kemungkinan besar mayoritas terdiri dari orang muda usia harus kembali ke masyarakat. Mereka harus mencari nafkah untuk dirinya dan keluarganya. Tokoh pimpinan eks GAM pernah terdengar membentuk unit usaha untuk menampung mereka yang baru keluar dari hutan agar tidak jadi pengangguran.

Apakah 100% tertampung, mungkin tidak juga, macam kelompok DIN MINIMI yang baru -baru ini ia membuat heboh dengan muncul di koran dan melontarkan kritik pedas terhadap Pemerintah Aceh yang sebenarnya adalah pemimpinnya di masa perang melawan Pemerintah Pusat yang dinilai telah berlaku tidak adil terhadap Aceh.

Dengan rekam jejak keluarganya di masa lalu, kehilangan ayah dan dua adiknya dalam membela GAM, mungkinkah tindakan Din mengobarkan pemberontakan dipicu rasa kecewa yang teramat dalam terhadap mantan pemimpinnya?
“Kami siap melawan pemimpin Aceh dengan cara apapun, karena mereka sudah tidak lagi amanah. Banyak mantan kombatan GAM, janda, dan anak yatim akibat konflik saat ini hidup memprihatinkan,” kata ABU DIN MINIMI.

Menariknya, Din mengaku siap kembali jika pemerintah memenuhi permintaannya. Ia pun siap menyerahkan senjata.
“Kamoe akan melawan pemerintah sampoe darah kamoe abeh. Tapi bila pemerintah geupeunuhi yang kamoe lakee, kamoe pih siap kembali, dan senjata kamoe jok keu yang berhak atawa polisi,” (Kami akan melawan pemerintah sampai darah kami habis. Namun bila tuntutan kami dikabulkan, kami kembali ke masyarakat dan senjata kami serahkan ke aparat polisi),” ujar Nurdin.

Abu Minimi mendapatkan dukungan dari eks GAM Libya dan Rakyat Aceh Sumatra Merdeka, karena belum ada satupun yang berani melawan kinerja RI dalam perkara damai Helsinki yang disetujui oleh Pemerintah Aceh mantan pemimpin GAM tersebut, hingga ketidak sabaran Abu Minimi memaksa Pemerintah Aceh untuk menuntaskan perjanjian MoU dengan senjata.
“Karena janji Zikir saat kampanye Parlok “jika tuntutan pemerintah Aceh tidak disetujui oleh Indonesia maka kami bersama rakyat Aceh kembali angkat senjata,” ulasnya lagi.

Abu Minimi katanya adalah contoh dari ribuan korban konflik akibat perang Aceh, dan dia sangat menyanyangkan sikap petinggi GAM dulu yang rela membiarkan kawannya hidup merana.
“Masihkah kalian para petinggi melupakan orang orang yang pernah kalian korbankan dulu, maka berhentilah kalian para pejabat jangan berberpura pura lagi,” tegas Abu Minimi menyindir Pemerintah Aceh. Abu Minimi cuma sekelompok dari ribuan kelompok yang suatu saat akan menuntut atas apa yang telah petinggi GAM renggut dari mereka.

“Kalau kesabaran hilang, pasti akan ada aksi yang lebih besar lagi,”Berhentilah memainkan sinetron yang skenario nya kalian buat sendiri, sesekali biarlah skenario rakyat yang kalian mainkan dan jangan mengangguk saja kepada Indonesia itu karena mereka bukan siapa siapa di Aceh ini, jika politik kalian tidak mampu memenuhi permintaan Rakyat Aceh semua, maka kembalilah ke jalan awal lagi, berilah perlawan yang keras seperti kerasnya pembunuhan terhadap saudara kami dulu oleh RI, dan berdiplomasi kembali ke negara negara lain dan mencari dukungan untuk referendum,” tegas Abu Minimi.

Dan tak terpungkiri mungkin masih banyak mantan serdadu GAM yang amat kecewa dengan kinerja pemerintah yang barangkali mareka memilih diam seribu kata.

Beralih ke luar negri , Di Amerika banyak perusahaan tak mau mempekerjakan para veteran perang dengan alasan mereka tak punya keahlian selain berperang. Keahlian, inilah rupanya kata kunci yang harus dimiliki para veteran dan milisi. Keahlian dalam bidang keamanan atau security management, bagi beberapa diantara mereka sebenarnya dapat dijual, misalnya diberitakan ibu Nunun Nurbaeti dalam pelariannya di Thailand dikawal oleh seorang eks Marinir Amerika.

images (1)

foto serdadu Amerika

Di dalam negeri kita sendiri jangan heran bila banyak menemukan pensiunan Letnan Kolonel dan Kolonel di beberapa industri besar, mereka direkrut menjadi Security Manager, jabatan profesional di perusahaan yang dapat diduduki pensiunan perwira menengah atau orang sipil non eks tentara. Tentu saja fungsi para manajer sekuriti di Indonesia tidak identik dengan eks Marinir Amerika di atas. Para eks perwira punya keahlian manajemen sekuriti, sedangkan para tenaga lapangan selain diambil dari masyarakat sipil disisipi eks bintara TNI atau POLRI.

Bagaimana di Indonesia? Pasukan TNI dan Brimob yang berasal dari luar Aceh saat memuncaknya perseteruan antara GAM dengan Pemerintah Republik Indonesia, pasti lebih berbahagia sepulang ke keluarga masing-masing. tentu saja melegakan hati lepas dari urusan menyabung nyawa dalam situasi to kill or to be killed, berbahagia tak harus saling bunuh dengan sesama bangsa bahkan agama, berbahagia berkumpul dengan anak, istri,orangtua, bertemu pacar bagi yang lajang. Yang tak perlu dikhawatirkan adalah gaji mereka tetap dijamin pemerintah, karena mereka tentara reguler bukan milisi. Mereka umumnya bernasib lebih baik dari Marinir Amerika, terutama tentara cadangannya, yang baru pulang kampung.

~ Articel menarik lainnya

Iklan

Kunjungan balik ke blog sobat yang berkomentar sudah barang tentu !!! Terima Kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s