Kanji Rumbi Menu Buka Puasa Khas Atjeh

Masak Kanji di menasah papeun desa kumba.

Bagi masyarakat Aceh, kanji rumbi merupakan peganan khusus di bulan Ramadhan. Hampir setiap desa di Aceh memasak kanji rumbi di meunasah sebagai penganan berbuka puasa. Resep warisan leluhur ini abadi sampai sekarang.

Di kampung-kampung biasanya, anak-anak saban sore di bulan ramadhan membawa rantangan atau wadah dari plastik untuk menerima pembagian kanji rumbi yang di masak di meunasah. Mereka akan beramai-ramai membawa pulang ke rumah untuk disantap bersama keluarga kala waktu berbuka puasa tiba.

Biaya untuk memasak kanji rumbi selama sebulan penuh dalam bulan Ramadhan ditanggung bersama bahu-membahu oleh warga. Jauh-jauh hari sebelum Ramdhan, para tetua kampung seperti teungku imum meunasah, tuha peut, tuha lapan dan tgk keuchik akan membuat rapat bersama warga untuk membentuk panitia kecil alias koki yang akan memasak kanji di dapur umum meunasah.

Panitia yang dibentuk itu diantaranya, siapa yang akan memasak, siapa yang akan menanggung dana dan lain sebagainya. Dana untuk segala kebutuhan memasak kanji biasanya ditanggung bersama oleh warga, penggalangan dana itu biasa disebut repe atau meurepe. Sementara untuk tukang masak biasanya ditunjuk orang-orang di kampung yang sudah mahir memasak.

Untuk menghindari perselisihan atar sesama orang yang mampu memasak kanji, maka panitia tadi akan membuka tender kecil tentang upah memasak selama sebulan. Bagi tukang masak dengan upah termurahlah yang akan ditunjuk untuk memasak kanji dan menghidangkannya bagi orang-orang yang berbuka puasa di meunasah, serta membagikannya kepada anak-anak dari setiap keluarga yang datang untuk mengambil kanji di sore hari. Meski sudah ada dana dan tukang masak.

Biasanya orang-orang kaya di kampung akan menanggung biaya untuk beberapa hari memasak menurut kadar kemampuannya. Ada juga yang menyumbang bahan- bahan untuk memasak semisal buah kelapa yang untuk sekali memasak saja bisa mencapai 40 butir kelapa. Malah orang yang tidak mampu secara ekonomi pun diberi kesempatan untuk beramal di bulan puasa itu dalam hal menyediakan kanji bagi warga sekampung, minimal mereka bisa menyumbang kayu bakar untuk memasak kanji.

Kanji yang disediakan oleh umum di meunasah biasanya merupakan kanji biasa. Tapi sering di selingi dengan kanji rumbi yang bahan-bahannya didapat dari sumbangan orang-orang kaya di kampung tersebut. Bagi masyarakat Aceh, kanji rumbi bukan makanan asing. Setiap tahun, di sepanjang bulan puasa, Masyarakat Aceh memiliki kebiasaan untuk berbuka puasa bersama di mesjid dan meunasah. Pada setiap meunasah, kanji rumbi selalu menjadi hidangan pembuka, setelah berpuasa. Bukan hanya di kampung, di kota juga tradisi memasak kanji ini masih dilakukan.

Di tempat kami kampung kumba kec bandar dua pijay, terkenal seorang pria berusia 50-an tahun yang jadi koki bernama Muhammad yang sudah hampir 40an tahun memasak kanji di dusun menasah papeun. Artinya sudah hampir 30 kali puasa ia menjadi koki di dapur kanji. Kanji rumbi sebenarnya berasal dari India, itu dapat ditandai dengan kandungan bahan berasal dari rempah- rempah.

Untuk membuat kanji rumbi. Resepnya tidak terlalu susah. Bahan-bahan dasarnya, antara lain adalah: merica, jara maniz, jara eungkot, lada, bunga lawang klieng, gapu naga, bawang merah, bawang putih, daun sop, daun salam, daun pandan, serai, garam, kunyit, halia, wortel, dan bawang bombai. Tahap pertama untuk membuat kanji rumbi,.

”Resep yg disiapkan adalah merica, jara maneh, dan jara eungkout, digiling halus. Setelah bahan-bahan tersebut digiling halus. Selanjutnya, Ssbelum bahan- bahan tersebut dimasukkan ke dalam kuali. Siapkan bebrapa ons mentega untuk menggoreng bawang merah sebagai rasa pewangi dan penyedap. Kemudian, masukan gilingan rempah- rempah tadi yang terdiri bawang merah, halia, bawang putih, kayu manis, dan gapu naga.

Setelah bumbu ini masak baru kemudian, dimasukan bahan lainnya, seperti udang, ayam atau lainnya. Tapi, biasanya, bnayak orang menyukai udang sebagai bahan masakannya ketimbang ayam. Setelah bahan ini terasa cukup matang, baru saatnya memasukan beras yang telah direndam beberapa jam sebelumnya. Beberapa saat kemudian baru dimasukkan santan.

Di bulan puasa, selain memasak kanji di meunasah atau mesjid, warga juga setiap hari dijatahi membawa kue, untuk menambah menu berbuka puasa. Setiap hari bberapa rumah dijatahi menyediakan kue untuk di bawa ke meunasah. Penjatahan itu dilakukan bergilir dari beberapa kepala keluaraga di ujung kampung sampai ke ujung kampung satunya lagi. Sampai di akhir bulan puasa semua rumah berkesempatan beramal menyediakan makanan berbuka puasa di meunasah.

~ Articel menarik lainnya

”selamat mencoba”

Iklan

Kunjungan balik ke blog sobat yang berkomentar sudah barang tentu !!! Terima Kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s