Ungkapan Rasa Dalam Kata

Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakatuh

Dinda. Masih bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan itu? Meskipun aku sudah mengetahui namamu. Bahkan nama lengkapmu yang indah. “Puteri” Nama yang dipenuhi dengan harapan dan doa dari kedua orang tuamu. Karenanya, aku meminta izin untuk menyapamu dengan panggilan Dinda. Semoga kamu tidak keberatan.

Aku berani menulis kerana Syahdunya kurasa saat ini yang tak tertahankan, suasana sepi membisu, tersentuh hatiku dibuai kenangan lalu ,sudikah engkau mendengarnya, sebenarnya engkau masih kusayang , biarpun tak dapat bersama, kau masih kurindu seperti waktu dahulu, aku mengharap agar engkau mengerti, curahan rasa ini.
Puteri engkaulah impianku, kulihat cinta dimatamu, walaukau tak mengatakannya , jiwaku menyentuh jiwamu.

Mungkin ini sebagai sebuah langkah awal untuk mewujudkan apa yang menjadi cita-cita dan harapanku, dan mungkin juga cita-cita dan harapan lelaki lainnya, yaitu menikah. hendaknya dirimu tampa ragu memikirkan ulang, sehingga memberi kesempatan buat diriku untuk menunaikan niat baikku ini yaitu menikahi dirimu, Menikah untuk menggenapkah setengah agamaku. Hidup bersama denganmu, itu menjadi harapanku berikutnya.

Namun demikian, aku meyakini bahwa tidak mudah untuk menerima kehadiran sosok lelaki yang pernah hadir dalam kehidupanmu lalu mengecewakanmu dikarnakan faktor lugunya lelaki tersebut , sehingga belum cukup paham makna dari cinta yang sebenarnya yang dinda berikan dulu, sehingga dengan mudahnya daku menduakan cinta sejati darimu .

Bisa jadi apa yang aku tulis akan merubah sikapmu sebelumnya yang sukar memberi kesempatan buat diriku, mungkin dirimu tidak keberatan membacanya.

Dinda? Ah, entah kenapa aku mulai senang menyapamu dengan panggilan itu. Maafkan, aku.

Baiklah, aku akan memulainya. Aku lelaki yang tak pandai memuji atau merangkai kata-kata romantis yang langsung bisa kuucapkan langsung dihadapan seseorang, apalagi seorang perempuan. Tapi itu bukan berarti aku tidak bisa mencintaimu atau menyanyangimu.

Hanya saja, mungkin bentuk cinta dan sayangku tidak seperti yang dirimu bayangkan. Ungkapan perasaan hatiku banyak kutuangkan melalui tarian jemariku yang bisa kau baca jika kau berkenan. Luapan cinta dan sayangku lebih sering kusampaikan dengan sentuhan dan perbuatan. Entah kelak dirimu akan terbiasa dengan hal itu, atau diriku yang akan belajar untuk berubah. Mungkin bait-bait berikut bisa mewakili tentang bagaimana caraku mencintaimu.


tak bisa aku mencintaimu
seperti seorang pangeran tampan
yang mampu meniti bintang tersusun bak titian
untuk merengkuh sang rembulan
dan menghadirkannya dalam pelukan


cintaku sangat sederhana
seperti syair para seniman jalanan
yang mengais rezeki tuk menyambung nafas kehidupan
namun dengan kesederhanaan itu
kita kan selamanya bersatu


cintaku sangat sederhana
seperti alunan kidung bunda
yang mengajak pergi dari alam nyata
namun dengan yang sederhana
kuharap kita selalu bersama

Bagiku, pernikahan itu adalah bicara tentang masa depan, bukan masa lalu.
Setiap orang memiliki tiga waktu atau masa. Masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Begitu juga dengan aku dan dirimu.

Jika di masa lalu, kamu pernah menjadi isi dibilik ruang hatiku disaat kita berdua ketika menjalani detik-detik kebersamaan (pacaran).
Entah kenapa sikap kekonyolanku tiba-tiba muncul dan tega mendustakan cinta sucimu, sehingga berakhirlah kebersamaan kita yang telah lama kita bina, tak terpungkiri kamu punya gebetan baru aku juga sama walaupun tiga bulan lamanya bersama si dia.

Dinda, aku tidak akan menarik dirimu ke masa laluku dan memintamu menjadi masa laluku karena keindahan dan kekecewaan masih ada dalam kenangan kita bersama. Maka cukuplah, kita tutup kisah yang dulu dan beralih ke lembaran yang baru.

Mengapa?

Aku takut dirimu akan terluka dan khawatir dengan sikapku yang dulu .
Aku tak ingin kamu merasa bahwa dirimu adalah pelarian keduaku semata. Sebab itulah yang aku rasakan jika kamu menceritakan kepadaku tentang kebersamaan dirimu dengan seseorang yang pernah singgah di hatimu, di masa lalumu.

Dinda, aku tidak akan mempermasalahkan masa lalumu. Karena masa lalu tidak akan pernah bisa diubah sedikit pun, sekeras apa pun kita berusaha. Yang terpenting bagiku adalah bahwa yang bersamaku saat ini adalah dirimu yang sekarang, bukan yang dulu. Kamu harus tahu bahwa dalam pandanganku, dirimu adalah sosok yang baru saat kita mengikat janji bersama. Yang berlalu biarlah berlalu. Yang terpenting adalah diriku dan dirimu melangkah bersama untuk mewujudkan cita-cita dan harapan di masa depan.

Dinda, aku memilihmu, bukan hanya karena dirimu yang baik, tetapi karena ada keyakinan bahwa dirimu akan menjadi wasilah untuk menjadikan diriku lebih baik. Atau setidaknya, kita bisa melangkah bersama-sama untuk menjadi lebih baik. Maka tetaplah menjadi sahabatku, di duniamu dan di akhiratmu.

Dinda, aku manusia. Demikian pula dirimu. Sebagai manusia yang sempurna, maka diriku akan memiliki banyak kekurangan dan sering berbuat kesalahan. Kuharap kamu bisa memakluminya. Sementara aku akan berusaha memperbaikinya.

Biarlah kekurangan dan kesalahan itu ada di dalam diri kita masing-masing. Lihatlah kekurangan dan kesalahan itu sesuai dengan porsinya. Jangan diperbesar. Akan menjadi baik jika porsinya diperkecil sehingga kita tidak berat untuk bisa memakluminya. Mengingatkannya. Memperbaikinya. Akan jauh lebih baik jika masing-masing dari kita untuk berusaha menghilangkannya. Dan hanya kebaikan-kebaikan saja yang tersisa di antara kita berdua.


jika kesalahan itu begitu nyata
samarkan dengan cinta
tutupi dengan rasa sayang yang ada


jika kekurangan itu begitu jelas
samarkan agar tak menetas
tutupi agar tak meluas


jika aib itu begitu besar
samarkan agar tak melebar
tutupi agar tak menyebar

Dinda, sepertinya tulisanku sudah terlalu panjang untuk sebuah permulaan. Aku cukupkan saja sampai di sini. Aku akan menunggu jawabanmu, melalui nomor HPku yang sama, apakah dirimu mengizikanku untuk datang ke rumahmu untuk bertemu dengan kedua orang tuamu. biar kubuktikan betapa masih besarnya cintaku pada dirimu, walaupun lama sudah ku menunggu aku sabar tampa jemu, Kuharap jawabanmu tidak terlalu lama. Terima kasih telah berkenan membaca curhatanku.

Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

By ; m.nur cs

Kunjungan balik ke blog sobat yang berkomentar sudah barang tentu !!! Terima Kasih

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s